SUARASMR.NEWS – Kanker bukan sekadar penyakit. Ia datang diam-diam, ganas, dan mematikan, sekaligus menjadi ujian terberat bagi para penderitanya. Proses pengobatan yang panjang, menyakitkan, dan melelahkan membuat dukungan moral menjadi energi yang tak ternilai bagi para pasien kanker.
Memperingati Hari Kanker Sedunia, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Iskak Tulungagung menunjukkan kepeduliannya dengan cara yang menyentuh hati.
Sejumlah bingkisan bunga dibagikan langsung kepada pasien kanker yang tengah menjalani perawatan. Sebuah simbol sederhana, namun sarat makna bahwa para pejuang kanker tidak berjuang sendirian.
Direktur RSUD dr. Iskak Tulungagung, Zuhrotul Aini, mengungkapkan bahwa jumlah pasien kanker di Kabupaten Tulungagung mencapai 1.467 orang.
RSUD dr. Iskak sendiri menjadi rumah sakit rujukan utama bagi pasien kanker di wilayah Mataraman, bahkan melayani pasien dari luar daerah seperti Trenggalek, Kediri, dan Blitar.
“RSUD dr. Iskak Tulungagung saat ini menjadi satu-satunya rumah sakit di wilayah Mataraman yang melayani kemoterapi. Setiap hari kami menerima pasien dari berbagai daerah,” ujarnya, Rabu (4/2/2026) lalu.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, memaparkan data yang mengkhawatirkan.
Dari total 1.467 pasien kanker, tercatat 278 pasien kanker serviks, 984 pasien kanker payudara, 92 pasien kanker paru, dan 113 pasien kanker usus. Angka ini, menurutnya, cenderung meningkat setiap tahun.
“Jumlah pasien kanker di Tulungagung sangat tinggi dan membutuhkan perhatian bersama. Kanker adalah penyakit mematikan, namun sebenarnya bisa dicegah melalui deteksi dini,” tegasnya.
Sebagai langkah antisipasi, Dinas Kesehatan Tulungagung telah menyediakan layanan cek kesehatan gratis di 32 puskesmas yang tersebar di seluruh kabupaten.
Masyarakat diimbau memanfaatkan fasilitas ini sebagai upaya deteksi dini sebelum kanker berkembang ke stadium lanjut.
Fakta paling memprihatinkan diungkapkan oleh Dokter Spesialis Bedah Subspesialis Bedah Onkologi RSUD dr. Iskak, dr. Feri Nugroho. Ia menyebutkan bahwa mayoritas pasien kanker datang ke rumah sakit dalam kondisi stadium lanjut.
“Sekitar 80 persen pasien kanker yang datang sudah berada pada stadium tiga ke atas. Pasien yang datang di stadium dua jumlahnya tidak sampai 20 persen,” jelasnya.
Keterlambatan ini, lanjut dr. Feri, dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari rasa takut terhadap pengobatan medis, hingga memilih pengobatan alternatif tanpa dasar medis yang jelas.
Rendahnya edukasi masyarakat turut memperparah kondisi, padahal fasilitas dan peluang kesembuhan pasien sangat ditentukan oleh stadium penyakit.
“Jika kanker terdeteksi pada stadium satu dan dua, angka harapan hidup lima tahun ke depan masih tinggi. Namun pada stadium tiga dan empat, peluang hidup semakin kecil,” tandasnya.
Peringatan Hari Kanker Sedunia ini menjadi pengingat keras bahwa kanker bukan hanya urusan medis, tetapi juga persoalan kesadaran, edukasi, dan kepedulian bersama.
Dukungan, deteksi dini, dan keberanian mengambil langkah medis tepat waktu menjadi kunci utama untuk menyelamatkan lebih banyak nyawa. (red/aidil)













