SUARASMR.NEWS – Di tengah derasnya arus globalisasi yang kian menggerus nilai-nilai lokal, semangat pelestarian budaya kembali bergema lantang dari Pendopo Joyokusuman, Gajahan, Solo.
Sanggar Sukoasih sukses menggelar Ujian Kompetensi Materi Tari Periode I Tahun 2025 bertajuk Cultural Empowerment #1 pada Sabtu malam (20/12/2025), mulai pukul 19.00 WIB. Acara ini menjadi panggung penting pemberdayaan budaya sekaligus penegasan identitas bangsa.
Kegiatan prestisius tersebut dibuka langsung oleh Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, yang dalam pidatonya menegaskan bahwa cultural empowerment bukan sekadar menjaga tradisi agar tetap hidup, melainkan membangun karakter bangsa yang berakar kuat pada nilai-nilai budaya, khususnya budaya Jawa.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, juga menegaskan bahwa Cultural empowerment adalah merupakan investasi jangka panjang untuk membentuk jati diri bangsa.
“Saya berkomitmen mengawal pelestarian seni dan budaya Kota Surakarta, memberdayakan sumber daya manusia seni agar mampu berdaya saing, adaptif, dan mengambil peran strategis dalam pengembangan ekonomi kreatif serta pariwisata,” tegas Astrid disambut tepuk tangan hadirin.
Tak hanya menyuguhkan ragam tarian tradisional yang sarat makna filosofis, acara semakin semarak dengan fashion show kebaya yang memukau.
Salah satu sorotan utama malam itu adalah kehadiran Jenar Kabisatya Maharani, Mbak Duta Wisata Sukoharjo 2025, yang tampil anggun sekaligus membawa pesan kuat tentang identitas dan pemberdayaan budaya.
Jenar menyampaikan apresiasi dan kebanggaannya dapat terlibat langsung dalam gelaran Cultural Empowerment #1.
Menurutnya, kebaya bukan sekadar busana tradisional, melainkan simbol jati diri perempuan Indonesia, kekuatan, keanggunan, dan warisan budaya yang terus hidup lintas generasi.
“Kebaya adalah bagian penting dari cultural empowerment. Ia memainkan peran strategis dalam menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya sendiri,” ungkap Jenar.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa mengenakan kebaya dalam acara ini bukan hanya soal estetika, tetapi sebuah sikap budaya.
“Dengan merawat dan mengenakan kebaya, kita tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga memberdayakan budaya, memperkuat identitas nasional, dan memastikan nilai-nilai luhur Indonesia tetap hidup, relevan, dan bermakna,” pungkasnya.
Gelaran Cultural Empowerment #1 pun menjadi bukti nyata bahwa seni, budaya, dan generasi muda dapat berjalan beriringan mengakar kuat di tradisi, namun tetap melangkah percaya diri menatap masa depan. (red/chan)













