SUARASMR.NEWS – Tak banyak yang menyadari, kata “rolak” yang akrab di telinga warga Surabaya dan sejumlah daerah di Jawa Timur ternyata bukan sekadar nama tempat.
Di balik sebutan seperti Rolak Gunungsari, tersimpan kisah panjang tentang rekayasa air, peradaban sungai, dan warisan kolonial Belanda yang hingga kini masih memengaruhi wajah wilayah Jawa Timur.
Istilah rolak berasal dari bahasa Jawa yang merujuk pada pintu air atau palangan air, sebuah komponen vital dalam sistem pengairan tradisional maupun modern.
Jejak paling kuat dari istilah ini dapat ditemukan pada Bendungan Rolak Songo di Kabupaten Mojokerto sebuah mahakarya teknik air peninggalan abad ke-19.
Nama Rolak Songo sendiri menyimpan makna literal sekaligus historis: rolak berarti pintu air, sementara songo berarti sembilan.
Artinya, bendungan tersebut memiliki sembilan pintu air, yang dirancang untuk mengendalikan aliran Sungai Brantas urat nadi kehidupan agraris Jawa Timur sejak ratusan tahun silam.
Dilansir dari Good News From Indonesia, bendungan ini dibangun pada masa kolonial Belanda sebagai bagian dari strategi besar pengelolaan air.
Fungsinya bukan hanya untuk mengairi lahan pertanian, tetapi juga menjinakkan banjir yang kerap mengancam wilayah hilir seperti Surabaya dan Sidoarjo.
Seiring waktu, istilah rolak melampaui makna teknisnya. Ia bertransformasi menjadi penanda ruang, arah, dan identitas kawasan.
Di Surabaya, kata ini masih hidup dalam percakapan sehari-hari, terutama di wilayah yang sejak dulu berdekatan dengan sungai, kanal, dan saluran pengendali debit air.
Lebih dari sekadar nama tempat, rolak adalah kapsul sejarah jejak bagaimana manusia Jawa Timur membangun peradabannya di sekitar air, sungai, dan irigasi.
Sebuah bukti bahwa bahasa lisan masyarakat mampu menyimpan memori kolektif tentang teknologi, kekuasaan, dan adaptasi terhadap alam.
Di tengah modernisasi kota, kata “rolak” berdiri sebagai saksi bisu: bahwa Surabaya dan Jawa Timur tumbuh dari aliran air, kerja teknik, dan kecerdikan mengelola alam warisan yang terus mengalir hingga hari ini. (red/akha)












