SUARASMR.NEWS – Program Sekolah Rakyat dinilai bukan sekadar kebijakan pendidikan semata, melainkan terobosan besar negara dalam menegakkan keadilan sosial.
Penilaian itu disampaikan Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 13 Kupang, Felipina Agustina Kale, yang menyebut program ini sebagai jawaban nyata atas persoalan kemiskinan antargenerasi.
“Menurut saya, inilah keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Program ini sangat bagus,” tegas Felipina Agustina kepada wartawan, Minggu (11/1/2026).
Felipina menuturkan, Sekolah Rakyat hadir tidak hanya untuk mengejar prestasi akademik, tetapi membangun karakter, mental, dan kepercayaan diri anak-anak dari keluarga prasejahtera kelompok yang selama ini kerap terpinggirkan dalam akses pendidikan berkualitas.
Ia mengungkapkan, sebagian besar siswa datang dengan beban psikologis berat. Rasa minder, malu, dan rendah diri masih melekat kuat saat mereka pertama kali menginjakkan kaki di sekolah.
“Sejak pertama datang lima bulan lalu, rasa minder dan malu itu sangat terasa pada anak-anak,” ujarnya.
Kondisi tersebut, lanjut Felipina, menjadi tantangan besar bagi para pendidik. Namun melalui sistem sekolah berasrama yang terintegrasi, proses pembentukan karakter dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
“Di sekolah dan di asrama kami bersinergi. Wali asuh dan wali asrama menempatkan diri sebagai orang tua pengganti,” katanya.
Setiap hari, para siswa dibiasakan menjalani rutinitas sejak dini hari mulai dari ibadah, doa pagi, hingga persiapan belajar—sebagai bagian dari pendidikan disiplin dan pembentukan mental tangguh.
Hasilnya mulai terlihat. Dalam beberapa bulan, perubahan sikap dan perilaku siswa tampak signifikan.
“Sekarang mereka mulai berani berbicara, berani berinteraksi, dan berani menatap lawan bicara. Ini perubahan besar,” ucap Felipina.
Menurutnya, Sekolah Rakyat tidak hanya menyasar anak sebagai peserta didik, tetapi juga menyentuh keluarga mereka. Orang tua didorong untuk membangun motivasi, harapan, dan pola pikir baru demi masa depan anak-anaknya.
Felipina menegaskan, kemiskinan bukan semata soal keterbatasan ekonomi, melainkan juga cara pandang hidup. Karena itu, Sekolah Rakyat dirancang agar dapat menjangkau lebih banyak keluarga prasejahtera secara bergiliran.
Atas dasar itu, Felipina menyampaikan apresiasi kepada Presiden Prabowo Subianto atas kebijakan Sekolah Rakyat yang dinilainya sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya di Nusa Tenggara Timur.
Sebelumnya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengungkapkan bahwa hingga Desember 2025, sebanyak 166 Sekolah Rakyat telah beroperasi secara bertahap di berbagai daerah. Sekolah-sekolah tersebut melayani 15.945 siswa, didukung 2.407 guru dan 4.442 tenaga kependidikan.
“Seluruh Sekolah Rakyat telah dilengkapi laptop siswa, laptop guru, smart board, serta seragam sekolah,” ujar Mensos, dikutip dari laman Presiden RI, Sabtu (10/1/2026).
Program Sekolah Rakyat menjadi implementasi nyata Asta Cita keempat, yang menitikberatkan pada pembangunan pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi Indonesia masa depan. (red/niluh)












