SUARASMR.NEWS – Dalam budaya Jawa yang kaya akan nilai-nilai tradisi, ada sebuah falsafah turun-temurun dalam memilih pasangan hidup yang dikenal sebagai Bibit, Bebet, dan Bobot.
Pepatah ini sering digunakan sebagai pertimbangan sebelum orang tua atau keluarga menyetujui pernikahan anaknya.
Dikutip dari berbagai sumber, Bibit mengacu pada asal-usul dan keturunan calon pasangan. Dalam tradisi Jawa, penting untuk mengetahui dari keluarga mana seseorang berasal serta apakah nilai-nilai yang diturunkan dari keluarga tersebut dianggap baik dan cocok sebagai pasangan hidup.
Sementara itu, Bebet merujuk pada status sosial dan lingkungan pergaulan seseorang. Hal ini mencakup bagaimana calon pasangan bergaul dalam masyarakat, reputasi yang dimiliki, serta interaksi sehari-hari yang menunjukkan karakter dan kehidupan sosialnya.
Terakhir, Bobot menilai kualitas pribadi individu, seperti cara berkomunikasi yang baik, kepribadian, pekerjaan, dan bahkan penampilan fisik.
Dalam masyarakat Jawa tradisional, kriteria ini pernah sangat penting karena dianggap menunjukkan kemampuan calon pasangan untuk menafkahi keluarga di masa depan.
Pepatah Bibit, Bebet, Bobot sendiri masih sering disebut ketika membahas kompatibilitas pasangan, meskipun relevansinya di zaman modern kini diperdebatkan oleh generasi muda.
Beberapa orang berpendapat bahwa kriteria ini bisa membantu memperkirakan kehidupan rumah tangga yang harmonis, sementara yang lain menilai bahwa fokus pada cinta, komunikasi, dan kecocokan pribadi kini lebih penting daripada sekadar kriteria tradisional.
Tradisi ini bukan hanya soal “siapa yang sesuai” secara sosial, tetapi juga tentang bagaimana kebudayaan dan nilai keluarga mempertimbangkan masa depan rumah tangga dalam konteks komunitasnya. (red/akha)












