Perang Dunia III Antara Arogansi Adidaya dan Rapuhnya Tatanan Global

oleh
banner 468x60

SUARASMR.NEWS – Isyarat menuju Perang Dunia III kian terasa nyata. Dunia tengah menyaksikan eskalasi ketegangan global yang berakar pada arogansi kekuasaan, krisis kepercayaan antarnegara, serta rapuhnya hukum internasional.

Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan Donald Trump, tampil sebagai episentrum kegaduhan geopolitik tersebut. Salah satu contoh paling mencolok adalah ambisi Amerika Serikat terhadap Pulau Greenland, wilayah otonom milik Denmark.

banner 719x1003

Dengan dalih mencegah pengaruh Rusia dan China, Washington secara terbuka menyatakan keinginannya untuk mengambil alih Greenland bahkan dengan pendekatan yang menyerupai pemaksaan pembelian.

Dalih keamanan ini justru memantik kecemasan baru di Eropa. Menyadari ancaman tersebut, Denmark mulai memperkuat pertahanan militernya di Greenland.

Langkah ini bukan sekadar defensif, tetapi juga simbol perlawanan terhadap upaya Amerika Serikat yang dinilai meremehkan kedaulatan negara lain.

Ketegangan pun merembet ke negara-negara Eropa yang selama ini menjadi sekutu dekat Washington. Bahkan, muncul pernyataan keras bahwa Eropa tidak akan tinggal diam jika Amerika Serikat nekat mencaplok Greenland.

Arogansi Amerika Serikat tidak berhenti di situ. Dunia internasional dikejutkan oleh tindakan penculikan Presiden Venezuela beserta istrinya.

banner 484x341

Sebuah tindakan yang secara terang-terangan menginjak-injak kedaulatan negara lain dan mencederai prinsip hukum internasional.

Amerika Serikat, dalam konteks ini, tampak tak lagi menempatkan hukum global sebagai rambu moral maupun politik.

Konflik semakin membara ketika pasukan Amerika Serikat menyita kapal tanker Marinera berbendera Rusia di perairan internasional barat laut Skotlandia.

Kapal tersebut sebelumnya membawa minyak dan dikejar sejak dari Laut Karibia. Rusia menilai tindakan itu sebagai pelanggaran serius terhadap hukum maritim internasional dan perbuatan koersif yang berpotensi memicu krisis global.

Respons Rusia pun keras. Pesawat-pesawat tempur Moskow diterbangkan rendah di atas kapal-kapal Amerika sebagai sinyal peringatan tegas.

Baca Juga :  Pesan Untuk Presiden Terpilih Prabowo Subianto 

China tak ketinggalan; Beijing mengerahkan jet tempur untuk mengawal kapal-kapal tanker minyaknya, khususnya yang berasal dari Venezuela.

Pesan China jelas: Amerika Serikat tidak bisa lagi bertindak sewenang-wenang tanpa konsekuensi. Di titik inilah bayang-bayang Perang Dunia III semakin menguat. Lebih mengkhawatirkan lagi, NATO kini terlihat tidak lagi sepenuhnya solid mendukung Amerika Serikat.

Retaknya solidaritas internal NATO membuka kemungkinan Amerika Serikat menghadapi tekanan global secara sendirian, berhadapan dengan kekuatan besar seperti Rusia, China, bahkan sebagian Eropa itu sendiri.

Pertanyaan penting pun muncul: mungkinkah NATO suatu saat berseberangan dengan Amerika Serikat dan justru mendekat ke Rusia dan China?

Secara teoritis, hal itu mungkin terjadi bila motifnya adalah koreksi terhadap arogansi Amerika dan menjaga stabilitas keamanan negara-negara Eropa.

Namun, jika menyangkut perebutan pengaruh ekonomi dan geopolitik global, persekutuan semacam itu jelas tidak akan mudah terwujud.

Konflik Rusia–Ukraina tetap menjadi batu sandungan utama. Ukraina hingga kini bukan anggota NATO, namun setiap eskalasi konflik membawa risiko besar.

Satu serangan langsung Rusia ke wilayah NATO dapat mengubah konflik regional menjadi perang terbuka skala global.

Tidak mengherankan jika negara-negara Eropa seperti Belanda mulai mengaktifkan alarm peringatan dan latihan perlindungan sipil.

Langkah ini mencerminkan kegelisahan kolektif Eropa terhadap ancaman perang besar yang tak lagi sekadar wacana.

Sejarah mencatat, Perang Dunia I dan II berpusat di Eropa, khususnya Jerman. Bukan tidak mungkin Perang Dunia III pun kembali menjadikan Berlin sebagai titik sentral.

Meski Jerman hari ini tampak stabil dan damai, negeri ini tetap menjadi ladang subur lahirnya pemikiran kritis, ideologi besar, dan gerakan revolusioner yang kerap mengguncang tatanan dunia.

Debu mesiu perang dunia masa lalu mungkin telah mengendap, tetapi ingatan sejarah dan kesadaran geopolitik bangsa Jerman tak pernah benar-benar pudar.

Baca Juga :  Refleksi Hari Pahlawan Sebagai Spirit Dalam Membangun Negeri 

Dalam kondisi global yang kian rapuh, bara lama itu bisa kembali menyala dan ketika itu terjadi, dunia mungkin telah terlambat untuk mencegahnya. (red)

Penulis: Saiful Huda Ems (SHE), Lawyer dan Analis Politik

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *