SUARASMR.NEWS – Di tengah zaman ketika cinta kerap diukur dari seberapa sering diucapkan dan dipamerkan, ketulusan cinta seorang laki-laki justru sering hadir dalam bentuk yang paling sunyi perbuatan.
Ia tidak selalu lantang mengumbar janji, tetapi konsisten menjaga dan setia membuktikan janjinya. Ketulusan cinta seorang laki-laki bukan tentang kepemilikan, melainkan tanggung jawab.
Ia mencintai bukan untuk menguasai, melainkan melindungi. Ia hadir bukan hanya saat bahagia, tetapi tetap bertahan ketika keadaan tidak ramah. Dalam diamnya, ada kesungguhan. Dalam kesederhanaannya, ada kejujuran.
Laki-laki yang tulus mencintai akan belajar menahan ego, meredam amarah, dan mengalah bukan karena kalah, tetapi karena peduli. Ia mungkin tidak sempurna, sering salah langkah, namun tidak pergi ketika lelah datang.
Baginya, cinta bukan sekadar rasa, melainkan keputusan untuk tetap tinggal dan memperjuangkan. Ketulusan itu terlihat saat ia lebih memilih memastikan orang yang dicintainya aman daripada menuntut dimengerti.
Saat ia bekerja keras tanpa banyak cerita, menanggung beban tanpa keluhan, dan menyimpan resahnya sendiri agar pasangannya tetap tenang. Cintanya tidak selalu terlihat romantis, tetapi terasa meneduhkan.
Dalam dunia yang serba cepat dan penuh kepalsuan, ketulusan cinta seorang laki-laki adalah anomali yang berharga. Ia tidak selalu terlihat, namun nyata. Tidak selalu terdengar, namun terasa.
Dan ketika ketulusan itu hadir, ia tidak meminta balasan berlebihan cukup dihargai, dipahami, dan dijaga bersama. Sebab cinta yang tulus, terutama dari seorang laki-laki, bukan tentang seberapa hebat ia berkata, melainkan seberapa lama dan setia ia membuktikan. (red/akha)












