Mengguncang Layar Lebar! Esok Tanpa Ibu Siap Mengharu Biru Bioskop Indonesia Mulai 22 Januari 2026

oleh
banner 468x60

SUARASMR.NEWS – Dunia perfilman Indonesia bersiap menyambut salah satu film paling dinanti awal tahun ini. Esok Tanpa Ibu atau Mothernet karya sutradara visioner Ho Wi Ding, siap menyapa penonton di seluruh bioskop Indonesia mulai Kamis, 22 Januari 2026.

Film ini menjanjikan pengalaman emosional yang mendalam lewat performa akting kelas atas dari Ali Fikry, Dian Sastrowardoyo, serta Ringgo Agus Rahman, aktor peraih dua Piala Citra. Tak sekadar menyentuh, Esok Tanpa Ibu juga menorehkan prestasi gemilang di panggung apresiasi film nasional.

banner 719x1003

Film ini sukses menyabet empat nominasi Festival Film Tempo 2025, masing-masing untuk Film Unggulan, Aktris Utama Unggulan (Dian Sastrowardoyo), Aktor Utama Unggulan (Ali Fikry), serta Penulis Skenario Unggulan yang digarap oleh Diva Apresya, Gina S. Noer, dan Melarissa Sjarief.

Deretan nominasi tersebut menjadi bukti kuat bahwa Esok Tanpa Ibu bukan sekadar tontonan, melainkan karya sinematik dengan kualitas artistik segar, berani, dan relevan dengan denyut zaman.

Film ini mengangkat tema relasi keluarga di tengah derasnya arus teknologi isu yang kian dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Produser Shanty Harmayn mengungkapkan rasa syukurnya atas pencapaian ini.

“Ini sangat berarti bagi perjalanan film kami. Kami berharap Esok Tanpa Ibu bisa menjadi ruang dialog yang lebih panjang tentang relasi keluarga serta peran teknologi dalam kehidupan manusia hari ini,” ujarnya.

Prestasi film ini juga bersinar di kancah internasional. Esok Tanpa Ibu berkompetisi di program Vision Asia, Busan International Film Festival 2025 di Korea Selatan, yang sekaligus menjadi world premiere film tersebut.

banner 484x341

Usai Busan, film ini melenggang ke Tanah Air untuk Indonesian Premiere dan berkompetisi di Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2025, tepatnya pada program Indonesian Screen Awards.

Baca Juga :  Maudy Ayunda Bongkar Beratnya Syuting "Para Perasuk" Merangkak, Nyeker di Lumpur, hingga Tarian Ekstase

Esok Tanpa Ibu juga mendapat dukungan penuh dari Singapore Film Commission serta Infocomm Media Development Authority menegaskan posisi film ini sebagai proyek kolaborasi regional dengan standar internasional.

Dengan kisah yang menyentuh, akting memukau, dan pencapaian prestisius sejak penayangan perdananya, Esok Tanpa Ibu siap menjadi salah satu film paling berkesan di awal 2026. Sebuah film yang tak hanya ditonton, tetapi juga direnungkan.

Film “Esok Tanpa Ibu”, produksi BASE Entertainment dan Beacon Film, tampil sebagai proyek ambisius yang menyatukan drama keluarga emosional dengan sentuhan fiksi ilmiah, sekaligus menandai kolaborasi lintas negara Indonesia, Singapura, dan Malaysia.

Dikembangkan sejak 2020, film ini bukan sekadar tontonan, melainkan hasil kerja panjang para sineas lintas budaya. Produser Shanty Harmayn menegaskan sejak awal proyek ini memang dirancang sebagai kerja bersama lintas batas negara mulai dari tahap pengembangan naskah hingga proses produksi.

“Sejak awal ini bukan proyek satu pihak. Kami bekerja bersama mitra dari Singapura melalui Refinery Media dan sutradara dari Malaysia. Semua terlibat aktif dari hulu ke hilir,” ujar Shanty dalam konferensi pers di Jakarta.

Cerita “Esok Tanpa Ibu” sendiri lahir dari program Wahana Kreator 2020, sebuah ruang inkubasi kreatif yang memungkinkan eksplorasi tema besar: keluarga, kehilangan, dan teknologi perpaduan kompleks yang menuntut pendalaman emosional sekaligus intelektual.

Beda Bahasa, Satu Emosi: Kolaborasi tiga negara tentu membawa tantangan tersendiri, terutama soal bahasa di lokasi syuting. Namun bagi sutradara Ho Wi-ding, perbedaan bahasa justru bukan penghalang, melainkan ujian kedalaman rasa.

“Ketika emosi itu jujur, bahasa menjadi tidak penting. Film adalah bahasa universal,” tegas Ho Wi-ding.

Alih-alih terpaku pada dialog, sutradara asal Malaysia itu memilih menajamkan ekspresi, gestur, dan emosi aktor, menjadikan rasa sebagai pusat penceritaan. Kunci utamanya, kata dia, terletak pada proses casting.

Baca Juga :  Legenda Film Persahabatan Bangkit! “5cm Revolusi Hati” Siap Mengguncang Bioskop

“Jika Anda menemukan pemeran yang tepat, Anda tinggal mempercayai mereka. Biarkan mereka merasakan adegannya sendiri,” ujarnya.

Akting Tanpa Kompromi: Pendekatan tersebut dirasakan langsung oleh Ringgo Agus Rahman, yang memerankan tokoh Bapak. Ia menyebut proses syuting berlangsung intens dan menuntut kejujuran emosi tanpa kompromi.

“Dialog bisa benar, tapi kalau emosinya belum sampai, ya diulang,” kata Ringgo.

Sementara Dian Sastrowardoyo, yang memerankan Laras sekaligus duduk sebagai produser, mengungkap detail teknis unik di balik layar. Seluruh kru dan pemain menggunakan naskah berbahasa Indonesia, sementara sutradara bekerja dengan versi bahasa Inggris.

“Terjemahannya harus benar-benar plek-ketiplek, supaya rasa dan maknanya tidak bergeser,” ujar Dian.

Siap Menggetarkan Layar Lebar: Dengan kombinasi cerita keluarga yang menyentuh, pendekatan fiksi ilmiah yang reflektif, serta kolaborasi lintas negara, “Esok Tanpa Ibu” digadang-gadang menjadi salah satu film paling emosional di awal 2026.

Film ini dijadwalkan tayang serentak di bioskop Indonesia mulai Kamis, 22 Januari 2026, dan siap mengajak penonton bertanya: bagaimana jika esok benar-benar datang tanpa ibu? (red/niluh)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *