SUARASMR.NEWS – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, peringatan serius datang dari kalangan medis. Dokter umum Universitas Indonesia, dr. Irwan Heriyanto, menegaskan bahwa kesiapan mental adalah fondasi utama agar ibadah puasa berjalan lancar, sehat, dan penuh makna bukan malah berujung stres.
“Yang pertama kali harus disiapkan itu mentalnya. Banyak orang sibuk menyiapkan menu dan vitamin, tapi lupa bertanya: mentalnya siap atau tidak? Kalau mental tidak siap, yang datang justru kepanikan. Puasa bukan jadi ibadah, tapi jadi beban,” ujar dr. Irwan, Rabu (22/1/2026).
Sebagai anggota Board of Medical Excellence Halodoc, dr. Irwan mengungkap bahwa puasa Ramadhan memiliki fase-fase penting yang sering diabaikan masyarakat, padahal sangat menentukan kondisi fisik dan spiritual selama sebulan penuh.
Empat Fase Kritis Puasa yang Wajib Diwaspadai
Menurut dr. Irwan, selain mental, setidaknya ada empat fase krusial yang perlu dipersiapkan dengan matang:
● Fase adaptasi awal – Minggu pertama puasa adalah masa paling rawan. Tubuh menyesuaikan diri dengan pola makan dan tidur baru. Jika asupan gizi dan istirahat buruk, penyakit mudah muncul.
● Fase stabilisasi – Di fase ini, tubuh mulai terbiasa, namun tetap perlu dukungan vitamin dan pengaturan pola hidup sehat.
● Fase menjelang Idul Fitri – Godaan mulai terasa, pola makan sering tak terkontrol.
● Fase pasca Lebaran – Inilah fase “bahaya tersembunyi”: berat badan naik, kolesterol melonjak, dan tubuh kaget akibat santan, sambal, serta hidangan berlemak khas Hari Raya.
“Menu Lebaran itu identik dengan santan dan pedas. Kalau tidak disiapkan dari sekarang, dampaknya bisa terasa setelah puasa selesai,” tegasnya.
Jangan Sampai Puasa Kehilangan Nilai Ibadah
Dr. Irwan mengingatkan, mengabaikan kesiapan mental dan kesehatan bisa membuat puasa terasa berat dan kehilangan esensi ibadah. Stres, kelelahan, hingga gangguan kesehatan bisa menggerus kekhusyukan.
Karena itu, ia mengimbau masyarakat untuk lebih bijak mengatur pola tidur, memilih makanan, memantau riwayat penyakit, dan segera berkonsultasi ke tenaga kesehatan bila muncul keluhan selama puasa.
“Puasa yang aman dan lancar itu bukan soal menahan lapar saja, tapi bagaimana kita menyiapkan mental dan tubuh sejak awal hingga setelah Lebaran,” pungkasnya.
Pesan tegasnya jelas: Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, tapi ujian kesiapan mental dan kesehatan. Siap atau tidak, hasilnya akan terasa sepanjang bulan bahkan setelah takbir Lebaran berkumandang. (red/ria)












