Catatan Dari Lubuk Hati yang Terdalam

oleh
banner 468x60

SUARASMR.NEWS – Pada akhirnya, setelah perjamuan panjang bernama kehidupan ini usai, tak ada lagi yang mampu membuat manusia tersenyum di alam keabadian, kecuali satu hal: kebaikan.

Bukan harta, bukan gelar, bukan kemegahan yang pernah dipamerkan, melainkan jejak kebaikan yang ditinggalkan untuk sesama manusia dan bumi tempat kita berpijak.

banner 719x1003

Kebaikan itulah yang kelak “dipotret” oleh Keabadian menjadi satu-satunya kenangan hidup yang tak bisa dihapus oleh waktu.

Sebab, Tuhan tak pernah merasa cukup bila manusia hanya sibuk berbuat baik kepada-Nya, tetapi lalai menjaga hubungan dengan sesama dan alam ciptaan-Nya.

Hubungan vertikal tanpa kepedulian horizontal hanyalah ibadah yang pincang. Menariknya, komunikasi dengan Tuhan tak pernah dibatasi ruang dan waktu.

Kapan pun manusia menyapa-Nya, Ia selalu siap menerima. Namun perlu disadari, sejatinya setiap kebaikan yang lahir dari diri manusia bukanlah murni milik manusia itu sendiri, melainkan karena Tuhan menggerakkan hatinya.

Tanpa kehendak-Nya, manusia tak mampu berbuat apa-apa.
Sebaliknya, kejahatan justru lahir dari kelemahan manusia itu sendiri dari ego, nafsu, dan lupa diri sebagai makhluk yang dhaif.

banner 484x341

Dari sini, manusia seharusnya belajar untuk rendah hati, bersyukur, dan tetap fokus menghadapkan jiwanya kepada Tuhan, tanpa tergoda membangun kemegahan diri yang semu.

Sebab setelah manusia tiada, dunia akan terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Kemegahan akan dilupakan, pujian akan menguap, dan nama hanya akan disebut sesekali kecuali bagi mereka yang memang dikehendaki-Nya untuk dikenang.

Yang benar-benar abadi hanyalah doa orang-orang yang pernah disentuh oleh kebaikan kita. Maka kebahagiaan sejati setelah kematian bukanlah batu nisan yang megah, melainkan kesediaan orang-orang untuk terus mendoakan, bahkan ketika bulan, tahun, dan abad silih berganti.

Baca Juga :  Tiga Tahapan Cinta yang Dilalui Manusia Sepanjang Hidup

Manusia pun diingatkan agar tak lupa pada tanggung jawabnya: kepada diri sendiri, keluarga, dan seluruh makhluk di bumi. Mencintai diri dan keluarga sejatinya harus berbanding lurus dengan mencintai sesama dan alam.

Moral pribadi yang baik tanpa kepedulian sosial hanya melahirkan kesalehan yang egois. Kritik terhadap kesalahan orang lain boleh dilakukan, namun jauh lebih penting adalah keberanian menghantam kemunafikan dan kebusukan dalam diri sendiri.

Betapa sering manusia rajin menilai tanggung jawab orang lain, tetapi lalai menunaikan tanggung jawab sosialnya sendiri. Kematian kelak akan mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam: tak seorang pun mampu mengubur dirinya sendiri.

Kita akan digotong oleh orang-orang bahkan oleh mereka yang mungkin tak pernah kita kenal sebelumnya. Maka hormatilah semua manusia, singkirkan dendam dan kebencian, bahkan kepada musuh yang terpaksa hadir dalam hidup kita.

Namun melapangkan hati bukan berarti membungkam nurani. Kejahatan yang menyengsarakan orang banyak tetap harus dilawan dengan suara dan sikap. Sebab diam total di hadapan kezaliman hanya akan melanggengkan kerusakan.

Dan kelak, ketika manusia ditanya tentang apa yang telah diperbuatnya selama hidup, ia tak ingin hanya mampu menggeleng tanpa jawaban.

Tanpa tanggung jawab moral dan keberanian bersikap, apa bedanya manusia dengan makhluk yang tak dibekali akal? Catatlah semua ini di hati terdalam, wahai jiwa agar kelak tak ada penyesalan ketika dunia benar-benar ditinggalkan. (red/SHE).

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *