SUARASMR.NEWS – Tiga dekade bukan sekadar angka. Ia adalah perjalanan, denyut kreativitas, dan jejak bunyi yang melekat di ingatan penonton. Miles Films merayakan 30 tahun kiprahnya di dunia sinema Indonesia.
Miles Films mempersembahkan pameran bertajuk “MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar”, sebuah ekshibisi yang mengajak publik menyelami relasi intim antara musik dan film dalam karya-karya ikonik Miles Films.
Digarap berkolaborasi dengan .this/PLAY dan Lokananta, pameran ini berlangsung mulai 27 Januari hingga September 2026 di Ruang Pamer Temporer Galeri Lokananta, Surakarta—ruang yang sarat sejarah musik Indonesia.
Musik sebagai Jiwa Sinema: Sejak berdiri pada 1995, Miles Films dikenal konsisten menjadikan musik bukan sekadar latar, melainkan jiwa yang menghidupkan cerita. Dari Petualangan Sherina (2000) hingga Rangga & Cinta (2025), musik hadir membangun emosi, ritme, bahkan menandai zaman.
Creative Director Miles Films, Riri Riza, menegaskan bahwa musik dalam film-film Miles adalah bagian tak terpisahkan dari bahasa sinema. “Nada-nada dalam film Miles bukan pelengkap. Ia membentuk pengalaman emosional penonton dan menjadi penanda masanya,” ujarnya.
Deretan nama besar penata musik—mulai dari Elfa Secioria, Djaduk Ferianto, Melly Goeslaw & Anto Hoed, Indra Lesmana, Erwin Gutawa, hingga Aria Prayogi dan Sherina Munaf menjadi saksi perjalanan kreatif tersebut.
Tak kalah kuat, lagu-lagu dari musisi dan band seperti Garasi, Mocca, Nidji, Gigi, Anggun C. Sasmi, Endah N Rhesa, RAN, hingga Iwa K, telah menjelma menjadi bagian dari budaya populer Indonesia.
Dari Musikal Anak hingga Cinta Remaja: Eksplorasi musik Miles Films juga tampak dalam genre musikal. Petualangan Sherina membuka kembali ruang musikal anak di layar lebar.
Kemudian disusul Untuk Rena (2005), hingga Rangga & Cinta yang merangkum musikal percintaan remaja dalam bahasa generasi baru. Di sini, lagu, gerak tubuh, dan ekspresi menjadi kekuatan naratif yang utuh.
Menyusuri Arsip, Bunyi, dan Ruang: Pameran ini menghadirkan pengalaman mendengar dan melihat secara dekat: arsip rilisan musik, lirik dan notasi, artefak kreatif, hingga instalasi yang menyingkap proses kerja di balik produksi musik film.
Pengunjung bahkan diajak “masuk” ke instalasi studio rekaman untuk merasakan magisnya gema suara yang berpadu dengan gambar. Dirancang sebagai ekshibisi yang terus berkembang oleh .this/PLAY Studio.
Pameran ini akan diperkaya secara bertahap dengan konten dan pendekatan presentasi baru menjadikan setiap kunjungan selalu menawarkan pengalaman yang segar dan berlapis.
Founder & Lead Spatial Designer .this/PLAY, Sigit D. Pratama, menyebut pameran ini sebagai ruang pertemuan gambar dan suara yang hidup.“Ini adalah perayaan relasi dua arah antara musik/suara dan film utuh, saling melengkapi, dan bercerita.”
Lokananta: Rumah yang Tepat: Pemilihan Lokananta sebagai lokasi pameran bukan tanpa alasan. Sebagai cagar budaya musik Indonesia, Lokananta menjadi konteks ideal untuk membaca perjalanan musik film dalam lintasan sejarah yang lebih luas. CEO Lokananta, Wendi Putranto, menyebut kolaborasi ini sebagai kehormatan besar.
“Miles Films adalah zeitgeist perfilman Indonesia. Pameran ini mengajak publik mendengar kembali, memahami ulang, dan merayakan jejak kreatif yang membentuk budaya populer kita.”
Produser Mira Lesmana menambahkan bahwa pencarian musik untuk film adalah proses panjang penuh eksperimen dan kolaborasi. “Semoga lewat bunyi, nada, dan gambar yang kami hadirkan, publik bisa merasakan semangat kami proses yang menantang sekaligus menyenangkan.”
Informasi Pameran: Pameran: MUSIK MILES FILMS: 30 Tahun Mendengar Terdengar pada 27 Januari – September 2026, Setiap hari | 10.00 – 20.00 WIB, Ruang Pamer Temporer Galeri Lokananta Jl. Ahmad Yani No. 379A, Kerten, Laweyan, Surakarta. Reservasi: galerilokananta-online.globaltix.com. Instagram: @lokanantabloc. (red/chandra)













