SUARASMR.NEWS – Pemerintah Provinsi Jawa Timur tak tinggal diam usai Presiden Prabowo Subianto melontarkan kritik keras soal minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap situs-situs bersejarah bangsa.
Salah satu yang disorot langsung oleh Presiden adalah Rumah Radio Bung Tomo, simbol penting perjuangan rakyat Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan.
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa langsung merespons dan memerintahkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur untuk segera turun tangan menelusuri dan memverifikasi keberadaan situs bersejarah yang dimaksud.
“Saya juga minta kepada Dinas Pariwisata, coba dipastikan,” tegas Khofifah pada Rabu (4/2/2024
Sorotan Presiden Prabowo sendiri muncul saat ia menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026. Dalam forum itu, Prabowo mengungkapkan keprihatinannya terhadap lemahnya perhatian negara pada situs-situs sejarah yang menjadi saksi lahirnya semangat perjuangan bangsa.
Namun, pernyataan Prabowo juga membuka perdebatan sejarah. Presiden menyebut bahwa stasiun radio yang digunakan Bung Tomo untuk membakar semangat perlawanan rakyat Surabaya adalah RRI Surabaya.
Padahal, dalam berbagai literatur sejarah, radio yang dimaksud kerap disebut sebagai Radio Pemberontakan. “Saya kan beberapa kali datang ke RRI. Nah, RRI merasa di situlah dulu Bung Tomo. Jadi saya rasa perlu verifikasi,” ujar Prabowo.
Menanggapi hal tersebut, Gubernur Khofifah langsung menginstruksikan Disbudpar Jatim untuk melakukan verifikasi menyeluruh: apakah yang dimaksud Presiden adalah Radio Pemberontakan di Jalan Mawar, atau RRI Surabaya di Jalan Pemuda.
“Di RRI selalu disampaikan bahwa itu adalah cagar budaya dan Bung Tomo ada di situ. Tapi saya juga minta Dinas Budpar Jawa Timur memverifikasi secara benar. Mana yang sebenarnya dimaksud. Arah Presiden harus kita tindak lanjuti secara detail,” tegas Khofifah.
Langkah cepat Pemprov Jatim ini menandai keseriusan pemerintah daerah dalam menanggapi pesan Presiden, sejarah tidak boleh diabaikan. Rumah Radio Bung Tomo bukan sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu pekikan “Merdeka atau Mati” yang menggema ke seluruh penjuru negeri.
Kini, publik menanti hasil verifikasi tersebut—sekaligus bukti nyata bahwa warisan sejarah bangsa benar-benar dijaga, bukan sekadar dikenang dalam buku pelajaran. (red/akha)












