Hukum Karma Itu Nyata Setiap Perbuatan Pasti Menemui Balasannya

oleh
banner 468x60

SUARASMR.NEWS – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat, keyakinan tentang keadilan sering kali dipertanyakan.

Namun satu prinsip tua yang terus relevan lintas zaman dan kepercayaan adalah hukum karma sebuah keyakinan bahwa setiap perbuatan, baik atau buruk, pasti akan kembali kepada pelakunya.

banner 719x1003

Hukum karma bukan sekadar konsep spiritual atau filosofi Timur. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, hukum ini kerap terbukti melalui rangkaian sebab-akibat yang tak selalu instan, namun pasti. Apa yang ditanam, itulah yang kelak dituai.

Banyak orang mungkin merasa lolos setelah melakukan kecurangan, kebohongan, atau menyakiti sesama. Namun waktu sering kali menjadi saksi paling jujur.

Balasan karma tidak selalu datang dalam bentuk yang sama, tetapi hadir melalui jalan yang tak terduga kehilangan kepercayaan, kegelisahan batin, kehancuran relasi, hingga runtuhnya reputasi.

Sebaliknya, kebaikan yang dilakukan dengan tulus pun jarang sia-sia. Meski tidak selalu dibalas langsung oleh orang yang sama, semesta seolah memiliki caranya sendiri untuk mengembalikan energi positif itu.

“Pertolongan datang dari arah yang tak disangka, jalan hidup dimudahkan, dan hati diberi ketenangan.”

banner 484x341

Para pemerhati sosial menilai, kesadaran akan hukum karma seharusnya menjadi pengingat moral di tengah melemahnya nilai etika.

Ketika hukum formal tak selalu mampu menjangkau semua pelanggaran, hukum karma bekerja dalam diam tanpa suara, tanpa sorotan, namun tepat sasaran.

Hukum karma mengajarkan tanggung jawab personal. Bahwa hidup bukan hanya soal apa yang terlihat hari ini, tetapi tentang konsekuensi jangka panjang dari setiap pilihan.

“Tidak ada perbuatan yang benar-benar hilang, semuanya tercatat dalam perjalanan hidup masing-masing.”

Dalam ajaran agama, tidak ada satu pun perbuatan manusia yang luput dari pengawasan Tuhan. Apa yang dilakukan, sekecil apa pun, akan dicatat dan kelak dimintai pertanggungjawaban.

Baca Juga :  Royal Surakarta Wellness Festival 2025: Healing ala Ningrat di Tengah Pesona Budaya Keraton

Prinsip inilah yang dalam bahasa spiritual sering disebut sebagai hukum karma hukum sebab-akibat yang berjalan atas kehendak Allah.

Al-Qur’an dengan tegas mengingatkan, “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah: 7–8).

Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada perbuatan yang sia-sia, dan tidak ada kezaliman yang luput dari keadilan-Nya.

Sering kali manusia merasa aman setelah berbuat salah menyakiti sesama, mengkhianati amanah, atau mengambil hak orang lain. Namun dalam pandangan iman, ketenangan semu itu hanyalah penundaan.

Balasan Allah bisa hadir di dunia sebagai teguran, kegelisahan hati, sempitnya rezeki, atau rusaknya hubungan sosial. Dan bila belum dibalas di dunia, maka akhirat adalah tempat perhitungan yang sesungguhnya.

Sebaliknya, amal kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas, meski tak terlihat manusia, tidak pernah hilang di sisi Allah.

Doa yang tulus, kejujuran dalam kesempitan, serta kesabaran saat dizalimi adalah investasi akhirat yang nilainya berlipat ganda. Allah Maha Adil dan tidak akan menyia-nyiakan amal hamba-Nya.

Pada akhirnya, hukum karma dalam kacamata iman bukanlah mitos, melainkan bagian dari ketetapan Allah yang pasti terjadi. Manusia boleh bersembunyi dari sesama, tetapi tidak pernah bisa bersembunyi dari-Nya.

Karena itu, sebelum tangan berbuat dan lisan berbicara, ingatlah satu hal: setiap perbuatan pasti kembali, dan setiap amal akan dimintai hisab.

“Berhati-hatilah dalam bertindak. Sebab cepat atau lambat, hukum karma itu pasti ada dan tak pernah salah alamat.” (red/akha)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *