SUARASMR.NEWS – Kementerian Pariwisata kembali menyoroti fenomena yang tengah mengguncang peta pariwisata nasional: perubahan besar dalam perilaku wisatawan asal Tiongkok yang datang ke Indonesia.
Bukan lagi pelancong berombongan dengan bus besar, wisatawan Tiongkok era baru kini datang dengan gaya yang lebih mandiri, mewah, dan berteknologi tinggi.
“Sekarang terjadi perubahan substantif pada perilaku wisatawan Tiongkok,” ujar Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, saat ditemui di Jakarta, Jumat (21/11/2025).
Sebelum pandemi, wisatawan Tiongkok identik dengan perjalanan grup berisi 5–6 orang, lengkap dengan pemandu, bahkan sering kali terkendala bahasa. Namun kini, tren itu berubah total.
Berkat kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), wisatawan Tiongkok lebih berani traveling berdua bahkan solo trip dengan mengandalkan aplikasi penerjemah dan platform perjalanan digital.
Lonjakan penggunaan platform wisata online membuat mereka tak lagi bergantung pada agen tur. Setibanya di Indonesia, mereka sudah tahu ke mana harus pergi, di mana menginap, dan bagaimana menikmati destinasi.
Bahkan, mereka kini merambah destinasi internasional yang lebih jauh seperti Eropa dan kawasan Asia lainnya indikator bahwa daya beli mereka meningkat drastis. “Perubahan zaman inilah yang membuat perilakunya berubah,” jelas Made.
Wisatawan Tiongkok memiliki ketertarikan kuat pada wisata alam Indonesia. Destinasi favorit mereka antara lain:
- Laut dan pesisir eksotis di Manado, Sulawesi Utara
- Keagungan pegunungan Bromo–Tengger–Semeru (BTS)
- Pemandangan alam yang menawarkan “Instagrammable view” kelas dunia
Di sisi kuliner, mereka juga semakin gemar mencicipi seafood bercita rasa lokal. “Dulu kita pikir mereka harus makanan China, ternyata tidak. Makanya banyak turis Tiongkok di Manado,” terang Made.
Tren paling menarik muncul saat hari besar seperti Tahun Baru dan Imlek. Wisatawan Tiongkok tak segan-segan memilih kamar hotel tipe junior suite atau resort mewah. Bukan hanya untuk kenyamanan tetapi juga untuk memamerkan kemewahan tersebut di media sosial mereka.
Selain menginap bersama keluarga, aktivitas seperti diving dan golf kini semakin diminati. Ini menandakan wisatawan Tiongkok adalah segmen dengan pengeluaran tinggi, sebuah peluang emas bagi Indonesia.
Hingga periode Januari–September 2025, wisatawan Tiongkok sudah mencapai hampir 1,2 juta kunjungan, menjadikannya salah satu dari 15 negara dengan kunjungan terbanyak ke Indonesia.
Tidak hanya itu, tensi geopolitik antara Jepang dan Tiongkok membuat Indonesia dianggap sebagai destinasi alternatif yang aman, stabil, dan menarik. “Kami berharap mendapatkan windfall dari situ,” kata Made optimistis.
Kemenpar akan semakin agresif menggencarkan promosi, mulai dari paket wisata alam, bahari, hingga liburan keluarga. Dengan tren baru wisatawan Tiongkok yang lebih mandiri, lebih mewah, dan lebih doyan eksplorasi.
Indonesia berada di posisi strategis untuk mendapatkan lonjakan pengunjung dalam beberapa tahun ke depan. Pariwisata Indonesia siap unjuk gigi dan wisatawan Tiongkok siap datang dengan gelombang lebih besar, lebih mewah, dan lebih berpengaruh dari sebelumnya. (red/niluh)












