SUARASMR.NEWS – Dalam perjalanan hidup yang penuh luka, jatuh bangun, dan doa-doa yang kadang hanya mampu terucap dalam diam, ada satu kebenaran yang tak pernah berubah: Allah SWT begitu romantis kepada hamba-Nya.
Romantis bukan dalam makna duniawi, tetapi dalam cara-Nya mencintai, menjaga, memanggil, mengampuni, dan merindukan kepulangan kita.
Romantisme Ilahi itu hadir dalam setiap ayat, setiap takdir, bahkan dalam setiap air mata yang jatuh karena-Nya.
1. Allah Mencintai Tanpa Syarat, Bahkan Saat Kita Jauh: Sering kali manusia mencintai karena alasan. Namun Allah mencintai bahkan saat hamba-Nya berbuat salah, selama ia mau kembali.
Allah berfirman: “Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Az-Zumar: 53).
Ayat ini bukan sekadar pengampunan, melainkan pelukan. Betapa romantisnya Allah memanggil kita dengan sebutan “Wahai hamba-hamba-Ku”, bahkan ketika kita penuh dosa.
2. Allah Lebih Dekat Dari Siapa Pun: Romantisme itu tentang kedekatan. Dan Allah menegaskan bahwa Dia tidak pernah jauh.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran” (QS. Al-Baqarah: 186).
Perhatikan, dalam ayat ini Allah tidak menggunakan perantara. Tidak ada kata “Katakanlah” seperti pada ayat lain. Allah langsung menjawab: “Aku dekat.”
Sedekat itu. Lebih dekat dari urat nadi: “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” (QS. Qaf: 16).
Bukankah itu ungkapan cinta yang begitu dalam?
3. Allah Mencari Alasan untuk Mengampuni: Dalam sebuah hadis qudsi, Rasulullah bersabda bahwa Allah berfirman:
“Wahai anak Adam, selama engkau berdoa dan berharap kepada-Ku, Aku akan mengampunimu atas apa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli.” (HR. At-Tirmidzi)
Dan dalam hadis lain: “Sungguh Allah lebih gembira dengan taubat seorang hamba-Nya daripada kegembiraan seseorang yang menemukan kembali untanya yang hilang di padang pasir.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan…Allah bukan hanya menerima taubat. Allah bergembira atas kepulangan kita. Itu bukan sekadar kasih sayang. Itu kerinduan Ilahi.
4. Allah Menguji Karena Cinta: Kadang manusia mengira ujian adalah tanda jauh dari cinta. Padahal justru sebaliknya. Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian. Dan apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka.”(HR. At-Tirmidzi)
Ujian bukan hukuman, Ini adalah cara Allah mendewasakan, membersihkan, dan menaikkan derajat. Bukankah seorang yang mencintai ingin melihat yang dicintainya tumbuh menjadi lebih kuat?
5. Allah Menyiapkan Surga Sebagai Bukti Cinta: Romantisnya Allah tidak berhenti di dunia. Dia menyiapkan Surga, tempat tanpa luka, tanpa air mata, tanpa perpisahan.
“Di dalamnya mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki, dan pada Kami masih ada tambahan.” (QS. Qaf: 35).
Para ulama menjelaskan bahwa “tambahan” itu adalah melihat wajah Allah. Puncak kenikmatan bukan istana, bukan sungai susu tetapi perjumpaan dengan Sang Maha Cinta.
6. Allah Memanggil dengan Lembut: Dalam Al-Qur’an, Allah sering memanggil: “Ya ayyuhalladzina amanu…” “Wahai orang-orang yang beriman…” Itu panggilan penuh kemuliaan. Allah tidak memanggil dengan celaan, tetapi dengan penghormatan.
Dan bahkan dalam kesalahan, Allah masih membuka pintu: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah: 222).
Perhatikan kata “mencintai”. Allah tidak hanya menerima. Allah mencintai.
Penutup: Jika Ini Bukan Romantisme, Lalu Apa?
Allah Memberi sebelum diminta, Mengampuni sebelum dihukum, Mendekat saat kita menjauh, Menguji untuk meninggikan, Merindukan taubat hamba-Nya, Menyiapkan Surga sebagai hadiah.
Romantisnya Allah bukan sekadar rasa, tetapi tindakan nyata dalam setiap detik kehidupan. Maka ketika dada terasa sesak, ketika doa hanya mampu terucap tanpa suara, ingatlah: Allah tahu. Allah dekat.
Allah menunggu kepulangan kita dengan cinta yang tak pernah berkurang. Dan mungkin, selama ini, yang paling romantis dalam hidup kita bukan manusia yang datang lalu pergi, melainkan Allah yang tak pernah meninggalkan. (red/akha)












