SUARASMR.NEWS – Setiap kali membuka media sosial, kita seperti berdiri di sebuah etalase kehidupan. Di sana terpajang potret kebahagiaan, pencapaian, dan momen-momen terbaik banyak orang.
Ada yang baru menikah, ada yang memamerkan jabatan baru, ada yang meluncurkan karya, ada pula yang tampak hidupnya begitu tertata dan sempurna. Tanpa sadar, kita mulai membandingkan. Dan perbandingan itu sering kali melahirkan satu rasa tertinggal.
Padahal, yang kita lihat hanyalah potongan terbaik dari perjalanan orang lain bukan keseluruhan cerita. Namun pikiran kita kadung menyimpulkan bahwa hidup orang lain lebih cepat, lebih berhasil, lebih layak dirayakan.
Sementara hidup kita? Terasa berjalan pelan, bahkan seperti jalan di tempat. Lalu, apa yang sebaiknya kita lakukan ketika rasa gelisah itu datang?
1. Tersenyumlah, Bukan Karena Mereka Tapi Karena Kita: Saat melihat orang lain bahagia, cobalah tersenyum. Senyum itu bukan sekadar formalitas, melainkan latihan hati. Dengan ikut berbahagia atas pencapaian orang lain, kita sedang membersihkan diri dari iri yang diam-diam menggerogoti.
Iri hanya akan menguras energi. Sementara ikut berbahagia akan menumbuhkan kelapangan. Percayalah, hati yang lapang jauh lebih berharga daripada sekadar gengsi yang dipertahankan.
2. Terima Bahwa Hidup Tidak Seragam: Kita sering lupa bahwa hidup bukan lomba lari dengan garis finis yang sama. Setiap orang punya waktu, jalur, dan cerita berbeda. Bisa jadi bukan kita yang terlambat hanya saja kita sedang berada di rute yang berbeda.
Ada yang lebih dulu menikah, tapi belum menemukan kedamaian. Ada yang lebih dulu sukses, tapi masih mencari makna. Ada yang terlihat cepat, namun sebenarnya sedang berjuang di sisi yang tak terlihat.
Menerima realitas hidup bukan berarti menyerah. Itu justru tanda kedewasaan. Kita boleh menjadikan orang lain sebagai inspirasi, tapi bukan sebagai alat untuk merendahkan diri sendiri.
3. Kembali Pulang ke Diri Sendiri: Sering kali kegelisahan muncul karena kita terlalu jauh memandang kehidupan orang lain, sampai lupa menyapa diri sendiri. Cobalah berhenti sejenak. Tepuk pundak kita sendiri. Ucapkan terima kasih pada diri kita yang sudah bertahan sejauh ini.
Tidak semua perjuangan terlihat. Tidak semua luka perlu diumumkan. Namun setiap langkah kecil yang kita ambil tetaplah berarti. Menyayangi diri bukan tindakan egois itu adalah bentuk penghormatan atas perjalanan yang sudah ditempuh.
4. Tekuni Apa yang Membuatmu Hidup Merasa Nyaman: Daripada sibuk mengukur jarak dengan orang lain, lebih baik sibuk menumbuhkan potensi diri. Tanyakan pada diri kita sendiri:
● Apa yang benar-benar aku sukai?
● Apa yang ingin aku kembangkan?
● Di mana aku merasa paling hidup?
Ketika kita fokus pada hal yang kita cintai, standar hidup orang lain perlahan kehilangan kuasanya atas kita. Kita tidak lagi sekadar bereaksi pada kehidupan orang lain, tetapi aktif membangun kehidupan sendiri.
5. Susun Ulang Prioritas, Tanpa Drama: Belum terlambat untuk memulai ulang. Belum terlambat untuk menata kembali arah. Mungkin ada hal-hal yang memang harus diselesaikan lebih dulu sebelum melangkah lebih jauh.
Tidak semua keterlambatan adalah kegagalan. Kadang itu hanya proses pematangan. Hidup bukan tentang siapa paling cepat, tetapi siapa yang paling siap.
Pada akhirnya, media sosial hanyalah panggung. Sedangkan kehidupan nyata adalah proses panjang yang sering sunyi dan tidak selalu terlihat menarik.
Jika hari ini kita merasa tertinggal, mungkin sebenarnya kita sedang ditempa. Jika hari ini kita merasa lambat, mungkin sebenarnya kita sedang dipersiapkan.
Teruslah berjalan, dengan cara kita, dengan waktu kita. Karena hidup bukan soal membandingkan langkah, melainkan tentang menuntaskan perjalanan.
Dan untuk setiap usaha yang sudah kita lakukan hingga detik ini itu layak dihargai. Hidup tetap layak diperjuangkan. (red/akha)












