SUARASMR.NEWS – Isu yang menyeret nama prajurit TNI dalam tragedi pesta minuman keras di Jember akhirnya diluruskan Komandan Kodim (Dandim) 0824 Jember, Letnan Kolonel Arm Indra Andriansyah.
Indra Andriansyah angkat bicara dan menegaskan secara resmi bahwa Babinsa Karangrejo, Sersan Kepala (Serka) Putu Menaka, meninggal dunia akibat serangan jantung, bukan karena konsumsi minuman keras seperti yang ramai diberitakan.
Dalam konferensi pers di Markas Kodim 0824 Jember, Jumat sore, Dandim Indra menyatakan Serka Putu menghembuskan napas terakhir di RS Baladhika Husada Jember akibat henti jantung (cardiac arrest) yang dipicu kondisi hipertensi berat.
“Yang bersangkutan meninggal dunia karena serangan jantung dengan diagnosa hipertensi. Pemberitaan yang menyebut akibat minuman keras tidak benar dan tidak sesuai dengan resume medis resmi rumah sakit,” tegas Indra.
Dandim juga menekankan bahwa seluruh keterangan medis tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara profesional, sekaligus menjadi klarifikasi atas simpang siur informasi yang beredar luas di masyarakat.
Terkait keberadaan Serka Putu di lokasi pesta minuman keras yang menelan banyak korban jiwa, Dandim menyatakan pihaknya belum bisa memastikan dan masih menunggu hasil penyelidikan lanjutan serta keterangan saksi-saksi.
“Kami tidak ingin berspekulasi. Saat ini masih dilakukan pendalaman. Fakta yang dapat kami sampaikan adalah penyebab meninggal dunia berdasarkan hasil medis,” ujarnya.
Sementara itu, dokter jaga RS Baladhika Husada Jember, dr Deny Febriwijaya R., mengungkapkan bahwa Serka Putu masuk rumah sakit pada Minggu (28/12) pukul 20.48 WIB dengan kondisi sesak napas berat. Hasil pemeriksaan menunjukkan tekanan darah tinggi dan penurunan saturasi oksigen.
Pasien yang memiliki riwayat hipertensi, batuk, dan sesak napas itu sempat mendapatkan penanganan intensif hingga dipindahkan ke ruang ICU. Namun kondisinya terus memburuk dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 23.01 WIB.
“Penyebab kematian adalah serangan jantung akibat hipertensi emergency yang disertai gangguan pernapasan,” jelas dr Deny.
Tragedi pesta minuman keras di Jember sendiri telah berubah menjadi bencana kemanusiaan, dengan total enam orang meninggal dunia. Dari delapan peserta pesta, satu per satu korban berjatuhan dalam waktu yang berbeda, menimbulkan keprihatinan mendalam sekaligus sorotan tajam publik.
Meski demikian, Kodim 0824 Jember menegaskan komitmennya untuk menjaga objektivitas, kehormatan institusi, dan menunggu hasil penyelidikan resmi, agar kebenaran tidak dikaburkan oleh asumsi dan spekulasi. (red/ags)












