Film Anak “Teman Tegar Maira Whisper from Papua” Petualangan Penuh Lagu, Persahabatan, dan Jeritan Hutan Papua

oleh
banner 468x60

SUARASMR.NEWS –  “Alam ini memberi kita segalanya. Tapi tak ada yang bisa kita balas selain rasa syukur.” Kalimat sederhana itu menjadi napas utama film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua, sebuah film anak yang berani berbicara lantang tentang relasi manusia dan alam—lembut, jujur, dan menggugah.

Disutradarai Anggi Frisca, film berdurasi lebih dari 90 menit ini meramu petualangan, musikal, dan kisah persahabatan lintas budaya dalam lanskap Papua yang memesona sekaligus terluka.

banner 719x1003

Kisah bermula dari Tegar (M Aldifi Tegarajasa), bocah asal Bandung yang ikut berlibur ke kampung halaman pengasuhnya, Teh Isy (Joan Wakum), di Papua. Didorong rasa penasaran pada keindahan burung Cendrawasih—ikon surgawi Papua dan dongeng hutan yang pernah diceritakan mendiang kakeknya, Tegar memulai perjalanan yang perlahan mengubah cara pandangnya tentang kehidupan.

Di pedalaman hutan Papua, Tegar bertemu Maira (Elisabet Sisauta), gadis adat berusia 12 tahun yang ceria, polos, dan memiliki ikatan mendalam dengan alam. Dari rasa ingin tahu yang sederhana, tumbuh persahabatan yang hangat—persahabatan yang membuka mata keduanya tentang makna menjaga, bukan sekadar menikmati.

Namun keindahan itu tak berdiri sendiri. Di balik hijau hutan dan nyanyian alam, ancaman nyata mengintai. Konflik memuncak ketika masyarakat adat di wilayah Maira ditipu Bos Besar, pemilik perusahaan pembalakan yang mengincar tambang dan lahan hutan. Maira satu-satunya anak di kampung yang bisa membaca dan menulis berdiri di garis depan perlawanan, dibantu Tegar dan Teh Isy.

Film ini dengan berani menyingkap luka Papua: deforestasi, krisis iklim, dan konflik perebutan lahan, namun dikemas melalui bahasa film anak yang ringan, penuh empati, dan ramah untuk semua usia. Anak-anak tidak diposisikan sebagai korban, melainkan subjek dengan suara, keberanian, dan kemampuan untuk bertindak.

Baca Juga :  Film Sukma: Horor Baru Baim Wong, Luna Maya Diburu Cermin Terkutuk

Produser film, dr. Chandra Sembiring, menyebut film sebagai medium kampanye paling kuat dan berdaya ingat panjang. “Kami ingin membangun ekosistem. Setiap film adalah alat edukasi, alat kampanye, dan benih gerakan,” ujarnya di Jakarta, Selasa (27/1/2026).

banner 484x341

Berbekal pengalamannya di wilayah konflik, bencana, dan kawasan hutan, Chandra menegaskan bahwa masyarakat adat memiliki resiliensi luar biasa sesuatu yang kerap terpinggirkan dalam narasi pembangunan modern.

Dari sisi akting, M Aldifi Tegarajasa tampil natural sebagai Tegar kalem, reflektif, dan mengajarkan pentingnya datang tanpa merasa paling tahu. Sementara Elisabet Sisauta memerankan Maira dengan kekuatan senyap. Tanpa banyak dialog, satu adegan sederhana—mengembalikan dokumen perusahaan—menjadi simbol keberanian yang tulus dan menggugah.

Keunikan film ini juga terletak pada pendekatan musikalnya. Joan Wakum, penyanyi dan aktris asal Papua, tak hanya berperan sebagai Teh Isy, tetapi juga memimpin pengembangan musik film. Bersama musisi lokal dan nasional, ia menghadirkan komposisi orisinal yang memadukan ritme tradisional Papua dengan orkestrasi sinematik.

“Ini bukan sekadar film. Lagu-lagu dan visual di dalamnya adalah kebanggaan kami, anak-anak Papua. Ini tong punya tradisi yang akan kita bawa,” tutur Joan Wakum.

Dengan visual alam yang memukau, musik yang menyatu dengan narasi, serta pesan kemanusiaan yang kuat, Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua hadir bukan hanya sebagai tontonan, tetapi sebagai ajakan untuk mendengar bisikan hutan sebelum benar-benar sunyi. (red/,

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *