SUARASMR.NEWS – Langit dini hari di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur, mendadak membara. Gunung Ili Lewotolok memuntahkan abu pekat dan material pijar pada Jumat (27/2/2026) sekitar dini hari, memicu kewaspadaan tinggi warga di sekitarnya.
Berdasarkan laporan Badan Geologi Kementerian ESDM, lontaran material pijar melesat hingga 300 meter ke arah tenggara dari pusat letusan. Sementara itu, kolom abu terpantau menjulang setinggi 250 meter di atas puncak, atau sekitar 1.673 meter di atas permukaan laut.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengungkapkan bahwa kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal dan bergerak condong ke arah timur.
“Kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas sedang hingga tebal dan condong ke arah timur,” jelasnya dalam keterangan resmi yang di terima suarasmr.news, Jumat (27/2/2026) pagi.
Tak hanya visual dramatis, aktivitas vulkanik ini juga terekam jelas di seismogram. Getaran menunjukkan amplitudo maksimum 21,2 milimeter dengan durasi sekitar 33 detik sinyal bahwa perut bumi di bawah Ili Lewotolok benar-benar sedang bergolak.
Status Masih Waspada, Ancaman Nyata Mengintai. Meski erupsi terjadi, status Gunung Ili Lewotolok masih berada pada Level II (Waspada). Namun, ancaman guguran lava dan potensi awan panas tetap menjadi perhatian serius.
Badan Geologi mengeluarkan sejumlah rekomendasi tegas: Warga, pendaki, dan wisatawan dilarang beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari pusat erupsi.
Waspadai potensi guguran lava dan awan panas di sektor selatan, tenggara, barat, dan timur laut. Gunakan masker untuk melindungi saluran pernapasan dari abu vulkanik. Tutup sumber dan penampungan air bersih agar tidak terkontaminasi abu.
Koordinasi intensif terus dilakukan antara pemerintah daerah, masyarakat, Pos Pengamatan Gunung Ili Lewotolok di Desa Laranwutun, Kecamatan Ile Ape, serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung.
Lembata Siaga: Erupsi ini menjadi pengingat bahwa wilayah Nusa Tenggara Timur berada di jalur cincin api Pasifik yang aktif. Warga diminta tetap tenang namun siaga, mengikuti arahan resmi, dan tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi.
Langit mungkin kembali cerah, tetapi kewaspadaan tidak boleh padam. Gunung Ili Lewotolok tengah berbicara dan seluruh Lembata kini mendengarkan dengan waspada. (red/niluh)













