SUARASMR.NEWS – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah memasuki babak baru yang lebih panas. Iran resmi melancarkan serangan balasan terhadap Israel dan Amerika Serikat, Sabtu (28/2/2026), menyusul serangan yang lebih dulu dilakukan kedua negara tersebut pada siang harinya.
Rudal dan Drone Iran Hujani Target Strategis: Sejak sore hingga malam hari waktu setempat, sejumlah gudang amunisi di beberapa kota di Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah dilaporkan menjadi sasaran gelombang rudal balistik dan drone tempur Iran.
Negara-negara yang disebut menjadi lokasi pangkalan militer AS yang terdampak antara lain: Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait.
Serangan ini diklaim sebagai operasi militer terkoordinasi dengan teknologi tinggi, menandai eskalasi serius dalam konflik terbuka antara Teheran dan blok Washington-Tel Aviv.
IRGC: Ini Balasan untuk Agresi Musuh: Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi bahwa operasi tersebut merupakan respons langsung atas apa yang mereka sebut sebagai “tindakan agresif musuh kriminal”.
Sebelumnya pada hari yang sama, Israel bersama Amerika Serikat dilaporkan memulai serangan terhadap wilayah Iran. Tak butuh waktu lama, Teheran menunjukkan bahwa mereka tidak akan tinggal diam.
China Buat Pernyataan Mengejutkan Soal BRICS: Di tengah memanasnya situasi, China mengeluarkan pernyataan keras. Beijing menyebut negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan Israel terancam dikeluarkan dari aliansi ekonomi BRICS sebuah sikap yang berpotensi memperluas konflik dari arena militer ke ranah geopolitik dan ekonomi global.
Pernyataan tersebut sontak memicu spekulasi luas tentang dampaknya terhadap stabilitas politik dan ekonomi internasional.
Sorotan ke Indonesia: Situasi ini turut memantik pertanyaan publik mengenai posisi Indonesia. Nama Prabowo Subianto ikut menjadi sorotan di tengah dinamika global yang kian kompleks.
Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan salah satu demokrasi terbesar secara global, sikap dan langkah diplomasi Indonesia dinilai akan menjadi perhatian dalam pusaran konflik yang berpotensi meluas ini.
Konflik yang awalnya regional kini berpotensi menjadi krisis global. Dunia menahan napas, menanti apakah eskalasi ini akan berhenti di sini atau justru menjadi percikan api bagi babak baru ketegangan internasional. (red/SHE)












