SUARASMR.NEWS – Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, bukan sekadar kisah agung tentang perjalanan menembus langit, tetapi sebuah peristiwa spiritual monumental yang membawa misi besar bagi kehidupan umat Islam di muka bumi.
Lebih dari sekadar catatan sejarah, Isra’ Mi’raj adalah pesan ilahi yang menuntut perenungan, refleksi, dan pengamalan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak orang memahami Isra’ Mi’raj hanya sebagai perjalanan Rasulullah dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, lalu naik ke Sidratul Muntaha. Namun para ulama sepakat, esensi Isra’ Mi’raj bukan hanya pada apa yang dilihat Nabi di langit, melainkan apa yang beliau bawa pulang untuk umatnya.
“Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat pertama tidak hanya mengisahkan perjalanan Isra’ Mi’raj, tetapi menegaskan adanya misi besar yang diemban Rasulullah SAW di bumi, terutama perintah menegakkan sholat,” ujar H. Kusnan, M.Ag, saat menjadi narasumber program Mutiara Pagi PRO 1 RRI Madiun, Rabu (14/1/2026).
Peristiwa agung ini terjadi pada masa ‘Ammul Huzni, tahun kesedihan Rasulullah. Dalam kurun waktu itu, Nabi kehilangan dua sosok terpenting dalam hidup dan perjuangannya: istri tercinta Sayyidatina Khadijah dan paman beliau Abu Thalib.
Kedua sosok tersebut yang selama ini menjadi pelindung dan pembela dakwah Islam di Makkah. Dalam kondisi batin yang penuh luka itulah, Allah SWT memperjalankan Nabi Muhammad melalui Isra’ Mi’raj.
Menurut Ibnu Qayyim, Isra’ Mi’raj merupakan bentuk “hadiah” Allah setelah fase kesedihan panjang yang dialami Rasulullah. Hikmah ini menjadi cermin bagi umat Islam bahwa beratnya ujian hidup bukan pertanda ditinggalkan Allah, melainkan bisa jadi tanda sedang dipersiapkan untuk derajat kehidupan yang lebih tinggi.
Isra’ Mi’raj, lanjut H. Kusnan, harus dimaknai sebagai energi spiritual untuk perubahan hidup. Umat Islam dituntut menjalaninya dengan semangat jihad dalam arti luas: kerja keras, kesungguhan, kejujuran, dan perjuangan memperbaiki diri serta masyarakat.
“Oleh-oleh terbesar Isra’ Mi’raj adalah sholat. Sholat bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi sarana pembentukan pribadi dan sosial umat Islam,” tegasnya.
Sholat, kata dia, melatih kedisiplinan waktu, membentuk kesadaran moral, serta menanamkan nilai spiritual dan sosial. Takbiratul ihram hingga salam mengajarkan bahwa kesalehan sejati tidak berhenti pada hubungan dengan Allah, tetapi harus berlanjut pada kesalehan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
“Sholat yang benar akan mencegah perbuatan keji dan munkar. Dari sholat kita belajar menjadi muslim yang sholih secara pribadi sekaligus sholih secara sosial,” pungkas Ustadz H. Kusnan, M.Ag. (red/aden)












