SUARASMR.NEWS – Kisah Roro Jonggrang kembali menjadi sorotan sebagai salah satu legenda paling kuat yang melekat pada berdirinya Candi Prambanan.
Cerita rakyat ini tak hanya hidup dari generasi ke generasi, tetapi juga menjadi magnet budaya dan wisata yang terus menarik perhatian publik.
Legenda bermula dari runtuhnya Kerajaan Boko setelah ditaklukkan oleh Bandung Bondowoso, seorang ksatria sakti mandraguna. Kemenangan itu membawanya bertemu dengan putri kerajaan yang sangat cantik, Roro Jonggrang.
Terpesona oleh kecantikannya, Bandung Bondowoso segera mengajukan lamaran. Namun cinta tidak berbalas. Roro Jonggrang menolak secara halus, tetapi tak kuasa menentang secara langsung.
Ia pun mengajukan syarat mustahil: Bandung Bondowoso harus membangun seribu candi dalam satu malam.
Di luar dugaan, dengan bantuan pasukan makhluk halus, pembangunan hampir rampung sebelum fajar. Menyadari tugas itu nyaris berhasil, Roro Jonggrang mencari cara menggagalkannya.
Ia memerintahkan para dayang menumbuk padi dan menyalakan api agar langit tampak terang seperti pagi. Tertipu oleh cahaya semu, para makhluk halus pun melarikan diri. Pembangunan berhenti di angka 999.
Mengetahui dirinya dikelabui, Bandung Bondowoso murka. Dalam amarahnya, ia mengutuk Roro Jonggrang menjadi arca batu untuk melengkapi candi yang ke-seribu. Arca itu dipercaya sebagai patung Durga di ruang utama Candi Prambanan.
Legenda ini kini tidak hanya menjadi dongeng, tetapi juga narasi budaya yang memperkaya identitas Jawa. Pesannya tetap relevan: kecerdikan, ambisi, cinta, dan amarah bisa berujung takdir yang tak terduga.
Hingga kini, pengunjung Prambanan masih mendengar kisahnya tentang cinta yang ditolak, janji yang dipaksakan, dan seorang putri yang abadi dalam batu. (red/akha)













