Makna Puasa Ramadhan Bukan Sekadar Menahan Lapar, Menumbuhkan Cahaya Iman

oleh
banner 468x60

SUARASMR.NEWS – Bulan suci Ramadhan kembali hadir membawa suasana yang berbeda. Masjid-masjid dipenuhi jamaah, lantunan ayat suci menggema, dan semangat berbagi tumbuh di tengah masyarakat.

Namun sejatinya, puasa bukan hanya sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang membentuk jiwa dan meneguhkan keimanan.

banner 719x1003

Ramadhan mengajarkan pengendalian diri. Dari fajar hingga terbenam matahari, umat Islam dilatih menahan hawa nafsu, menjaga lisan, serta menundukkan ego. Di balik rasa lapar, tersimpan pelajaran tentang kesabaran dan empati terhadap sesama.

Selain itu, Ramadhan menjadi momentum memperbaiki hubungan baik dengan Allah SWT maupun dengan manusia. Tarawih, tadarus Al-Qur’an, serta sedekah menjadi penguat ikatan spiritual dan sosial. Nilai kebersamaan terasa kental dalam tradisi buka puasa bersama dan berbagi takjil.

Hal tersebut disampaikan Ustad Imam Suyuti, tokoh agama saat mengisi acara Kajian Puasa. Ia juga  menyampaikan bahwa esensi puasa adalah membentuk pribadi bertakwa. “Ramadhan adalah madrasah kehidupan. Ia melatih kejujuran, kedisiplinan, dan kepedulian,” ujarnya, Kamis (26/2/2026) pagi.

Selain aspek spiritual, Ramadhan juga memperkuat dimensi sosial. Rasa lapar yang dirasakan setiap hari menjadi pengingat akan saudara-saudara yang hidup dalam kekurangan.

Dari sinilah lahir empati dan dorongan untuk berbagi. Tradisi berbagi santunan bagi anak yatim, hingga zakat dan sedekah menjadi wujud nyata kepedulian sosial yang semakin terasa di bulan suci.

banner 484x341

Kebersamaan pun menjadi warna khas Ramadhan. Buka puasa bersama bukan sekadar momen makan, tetapi ruang mempererat silaturahmi.

“Keluarga berkumpul, sahabat saling menyapa, dan perbedaan seakan mencair dalam suasana penuh berkah. Ramadhan menghadirkan harmoni yang jarang ditemui di bulan-bulan lainnya,” jelasnya.

Di penghujung bulan, harapan setiap insan sama, keluar sebagai pribadi yang lebih bersih hati, lebih lembut sikap. Sebab sejatinya, Ramadhan bukan hanya tentang satu bulan ibadah, melainkan tentang perubahan yang terus hidup sepanjang waktu.

Baca Juga :  Mendikdasmen: Kolaborasi Otorita IKN Bersama Kemitraan Inovasi Untuk Anak Sekolah Indonesia

“Yaitu yang lebih sabar, lebih ikhlas, dan lebih bertakwa. Sebab Ramadhan adalah perjalanan pulang kembali kepada fitrah, kembali kepada cahaya iman, dan kembali kepada Allah dengan hati yang lebih bersih,” tandasnya. (red/akha)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *