SUARASMR.NEWS – Gelombang konser K-Pop yang kian masif di Indonesia dinilai sebagai “tambang emas” pariwisata yang belum digarap maksimal.
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) kini angkat suara: saatnya promotor konser dan industri perhotelan bersatu membangun ekosistem event kelas dunia.
Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran, menegaskan selama ini penyelenggaraan konser masih berjalan sendiri-sendiri tanpa kolaborasi serius dengan sektor akomodasi.
Padahal, setiap konser K-Pop menciptakan ledakan massa yang otomatis membutuhkan kamar hotel, transportasi, hingga layanan wisata pendukung.
“Biasanya penyelenggaraan event belum berkolaborasi dengan pihak akomodasi, ini jadi masalah. Padahal kerumunan yang diciptakan dari event seperti K-Pop itu pasti butuh akomodasi,” tegas Yusran saat dihubungi suarasmr.news di Jakarta, Jumat (20/2/2026).
Konser Ledakan Okupansi Hotel: PHRI melihat konser idola global seperti BTS bukan sekadar hiburan, melainkan mesin penggerak ekonomi. Fans tak hanya datang dari Jakarta, tapi juga luar kota hingga mancanegara (inbound tourism).
Mereka membutuhkan penginapan, konsumsi, hingga transportasi semua berputar menjadi pemasukan nyata bagi daerah.
Menariknya, bahkan penggemar dari kota yang sama pun kerap memilih menginap demi menghindari pulang larut atau kelelahan setelah konser.
“Penginapan pasti masuk dalam perencanaan perjalanan. Ini peluang besar untuk okupansi hotel,” ujar Yusran optimistis.
Tak Dapat Hotel Dekat Venue? Tenang!: Banyak penggemar masih terpaku mencari hotel persis di sekitar venue, misalnya di kawasan Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Padahal, Jakarta memiliki sistem transportasi publik yang memadai.
PHRI mencontohkan kawasan Blok M bisa menjadi opsi strategis. Dengan MRT Jakarta, jarak Blok M–Senayan dapat ditempuh hanya sekitar 5–10 menit. Alternatif ini membuka lebih banyak pilihan akomodasi tanpa harus berebut kamar di sekitar stadion.
Kolaborasi dengan promotor dinilai bisa menghadirkan paket terpadu: tiket konser + hotel + informasi transportasi. Bahkan, dukungan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diharapkan hadir lewat penambahan jam operasional transportasi umum saat konser besar berlangsung.
PHRI: Jangan Jalan Sendiri: Yusran menyayangkan hingga kini belum ada promotor yang secara serius menggandeng PHRI dalam perencanaan konser skala besar.
Jika kolaborasi ini terwujud, konser K-Pop di Indonesia bukan hanya sekadar panggung musik melainkan festival ekonomi yang menggerakkan hotel, restoran, transportasi, hingga UMKM lokal.
Kini pertanyaannya, akankah promotor dan industri perhotelan bersatu, atau peluang emas ini kembali terlewat begitu saja? (red/ria)













