SUARASMR.NEWS – Situbondo diguncang kabar mencemaskan. Di tengah memanasnya konflik geopolitik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, lima Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, kini terjebak di kawasan Timur Tengah dan belum bisa kembali ke Tanah Air.
Situasi mencekam itu memicu kepanikan keluarga di kampung halaman. Pemerintah Kabupaten Situbondo pun bergerak cepat dengan membuka posko pengaduan darurat guna menampung laporan dan mempercepat penanganan.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Situbondo, Suriyatno, mengungkapkan bahwa sejak konflik pecah, pihaknya telah menerima laporan dari lima keluarga PMI yang kini tersebar di lima negara berbeda: Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, Oman, dan Bahrain.
“Sejak posko dibuka, ada lima laporan masuk. Mereka semua berada di kawasan yang terdampak konflik dan dalam kondisi penuh kekhawatiran,” ujarnya, Kamis.
Lebih mengkhawatirkan lagi, kelima PMI tersebut telah menghubungi keluarga mereka di Situbondo dengan satu permintaan yang sama: segera dipulangkan.
Rasa cemas akan konflik yang berpotensi berkepanjangan membuat mereka tak lagi merasa aman. Ancaman eskalasi perang menjadi bayang-bayang nyata yang menghantui hari-hari mereka di negeri orang.
Tak tinggal diam, Bupati Situbondo, Yusuf Rio Wahyu Prayogo, langsung turun tangan. Ia mengaku telah menjalin komunikasi intensif dengan berbagai pihak, termasuk Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di negara-negara terkait.
“Kami terus membangun komunikasi dengan KJRI dan juga akan berkoordinasi langsung dengan Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia untuk mencari solusi terbaik,” tegasnya.
Adapun kelima PMI yang kini menanti kepulangan itu adalah:
1. Ratna Ningsih, asal Desa Semambung, bekerja di Arab Saudi
2. Zeiniyah Faradisa, asal Desa Sumberkolak, bekerja di Dubai, Uni Emirat Arab
3. Madriadna binti Sunamu Misdur, asal Desa Talkandang, bekerja di Kuwait
4. Sri Wahyuningsih, asal Desa Seletreng, saat ini berada di penampungan di Oman
5. Nurhayati, asal Desa Tenggir, kini berada di Manama, Bahrain
Nasib mereka kini berada di ujung tanduk, menunggu langkah cepat pemerintah untuk membawa mereka pulang dari zona yang kian memanas. Satu harapan menggantung: kembali ke Indonesia dengan selamat, sebelum situasi berubah semakin tak terkendali. (red/agus)











