SUARASMR.NEWS – Cinta bukan sekadar rasa, melainkan perjalanan batin yang tumbuh dan berubah seiring waktu. Para pemerhati psikologi dan spiritualitas menyebut bahwa sepanjang hidup, manusia umumnya melewati tiga tahapan cinta yang membentuk kedewasaan jiwa
Tahap Pertama Cinta karena Rasa: Tahap ini biasanya hadir di masa muda. Cinta tumbuh karena ketertarikan, emosi, dan gejolak perasaan. Degup jantung, rindu yang berlebihan, serta keinginan untuk selalu memiliki menjadi ciri utamanya.
Pada fase ini, cinta sering kali bersifat idealis dan penuh harapan. Namun, tak jarang juga rapuh karena bergantung pada balasan, perhatian, dan ekspektasi. Banyak pelajaran tentang luka, kecewa, dan kehilangan lahir dari tahap ini.
Kedua Cinta karena Kesadaran: Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, cinta mulai bergeser. Bukan lagi soal rasa semata, melainkan kesadaran untuk bertumbuh bersama. Cinta hadir dengan tanggung jawab, pengertian, dan komitmen.
Pada tahap ini, seseorang mencintai dengan menerima kekurangan, memahami perbedaan, serta memilih bertahan dan berjuang. Cinta tidak selalu berbunga-bunga, tetapi lebih tenang dan dewasa. Kebahagiaan tidak lagi diukur dari seberapa besar menerima, melainkan seberapa tulus memberi.
Cinta pada tahap ini sering kali bersifat spiritual, cinta kepada sesama, kepada kehidupan, dan kepada Tuhan. Ia melahirkan kedamaian, keikhlasan, serta rasa syukur yang dalam. Bukan lagi tentang “aku dan kamu”, melainkan tentang makna dan pengabdian.
Cinta sebagai Proses Kehidupan: Tiga tahapan cinta ini bukan aturan baku, melainkan cermin perjalanan batin manusia. Tidak semua orang sampai pada tahap terakhir, namun setiap tahap memiliki nilai dan pelajaran penting.
Pada akhirnya, cinta bukan sekadar tentang menemukan seseorang, tetapi tentang menemukan diri sendiri dan memahami bahwa cinta sejati selalu mengajarkan kita untuk menjadi manusia yang lebih utuh, dan mengantarkan manusia pulang dengan hati yang bersih. (red/akha)












