SUARASMR.NEWS – Tren diet fibermaxxing pola makan yang mengagungkan konsumsi serat tinggi-tengah digandrungi masyarakat. Namun di balik popularitasnya, para ahli mengingatkan adanya bahaya tersembunyi jika tren ini dijalani secara berlebihan dan tanpa pemahaman yang tepat.
Ahli gizi klinis Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K) menegaskan bahwa konsumsi serat yang berlebihan justru dapat memicu berbagai masalah kesehatan. Ia mengingatkan, prinsip gizi seimbang tidak boleh dikalahkan oleh tren diet sesaat.
“Segala sesuatu yang berlebihan tidak akan membawa dampak baik. Konsumsi serat berlebihan dapat mengurangi asupan kelompok makanan lain, seperti karbohidrat dan protein,” ujar Luciana saat dihubungi suarasmr.news, Sabtu (24/1/2026).
Menurutnya, kebutuhan serat harian orang Indonesia berada di kisaran 30–37 gram per hari. Melebihi batas tersebut berisiko mengganggu keseimbangan nutrisi dan menurunkan asupan zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh.
Tak hanya itu, konsumsi serat berlebihan juga bisa menimbulkan gangguan pencernaan, terutama jika tidak diimbangi dengan asupan cairan yang cukup.
“Jika asupan air kurang, konsumsi serat berlebihan justru dapat menyebabkan sembelit,” jelasnya.
Luciana menegaskan bahwa meski serat memiliki peran vital bagi kesehatan—mulai dari melancarkan pencernaan, membantu mengontrol berat badan, menjaga kadar gula darah, hingga menurunkan kolesterol jahat—konsumsinya tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.
Serat juga berperan penting dalam menjaga kesehatan usus, mendukung pertumbuhan bakteri baik, serta menurunkan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, hingga kanker usus besar.
Namun demikian, Luciana mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergiur tren diet populer yang belum tentu memiliki dasar ilmiah yang kuat.
“Sebaiknya masyarakat mengikuti pedoman gizi yang dianjurkan oleh institusi resmi. Konsumsi sayur dan buah sebagai sumber serat idealnya mencakup setengah dari piring makan kita,” tegasnya.
Ia menutup dengan menekankan bahwa pola makan bergizi seimbang tetap menjadi kunci utama menjaga kesehatan tubuh dalam jangka panjang bukan sekadar mengikuti tren yang sedang viral. (red/niluh)












