SUARASMR.NEWS, JAWA TENGAH – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Sumbing mulai terkendali di wilayah Magelang dan Wonosobo. Namun, kebakaran di Kabupaten Temanggung justru semakin meluas, dengan total lahan terdampak mencapai 344 hektare.
Angka tersebut meningkat tajam dari sebelumnya 204 hektare. Hingga Jumat (23/10/2026) malam, upaya pemadaman masih difokuskan di wilayah Temanggung yang memiliki medan terjal dan sulit dijangkau petugas.
Administratur Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara, Dimyati, mengatakan api di wilayah Magelang dan Wonosobo telah berhasil dipadamkan. Dengan demikian, Temanggung menjadi satu-satunya wilayah yang masih menjadi fokus penanganan.
“Di Wonosobo dan Magelang alhamdulillah (api) sudah padam semua. Tinggal di Temanggung,” kata Dimyati saat dihubungi suarasmr.news, Jumat (23/10/2026) malam.
Berdasarkan data Perhutani, akumulasi luas lahan terdampak karhutla di Wonosobo mencapai 362 hektare, sedangkan di Magelang tercatat 213,4 hektare.
Karhutla Gunung Sumbing dilaporkan terjadi sejak Senin (19/10/2026). Kebakaran melahap sejumlah vegetasi, terutama hamparan sabana, tegakan mlanding, dan tanaman bintami.
Dimyati menjelaskan, angin kencang di sekitar puncak membuat api cepat merambat dan memperbesar kobaran. Kondisi geografis yang curam juga menjadi kendala serius bagi petugas dalam menjangkau titik api.
“Topografi curam. Boleh dikatakan, dengan kondisi alam, sulit untuk memadamkan secara manual,” ujarnya.
Untuk mencegah api merembet lebih jauh, terutama ke kawasan resapan air, petugas gabungan terus membuat sekat bakar atau parit secara manual. Upaya ini dilakukan untuk membatasi pergerakan api di tengah medan yang sulit ditembus.
Sementara itu, laporan penanganan karhutla dari Resor Pemangkuan Hutan (RPH) Mangli menyebutkan kawasan basecamp Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Magelang, diguyur hujan dengan intensitas sedang hingga deras pada Jumat pukul 13.37 WIB.
Hujan tersebut membantu mempercepat pemadaman titik api di lereng gunung. Meski api utama di kawasan Kaliangkrik dan sekitarnya telah padam, Perhutani tetap menyiagakan personel untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api.
Potensi kebakaran susulan masih perlu diwaspadai, terutama dari bara yang tersisa di dalam serasah dan material vegetasi kering.
“Untuk memastikan tidak ada titik api lagi, besok ada penyisiran dan pemantauan,” tutur Dimyati.
Helikopter Water Bombing Masih Menunggu Persetujuan: Di tengah meluasnya kebakaran di Temanggung, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berencana mengerahkan helikopter untuk mendukung pemadaman melalui operasi water bombing atau penyiraman air dari udara.
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah, Bergas Catursasi, mengatakan helikopter yang direncanakan untuk membantu penanganan di Gunung Sumbing saat ini masih difokuskan untuk mengatasi karhutla di Gunung Lawu.
Menurut Bergas, proses perizinan untuk menggeser satu helikopter dari operasi di Gunung Lawu ke Gunung Sumbing masih berjalan. Permohonan tersebut telah diajukan kepada Panglima TNI, dengan sejumlah persoalan teknis yang perlu diselesaikan.
“Perizinan baru masuk ke Panglima TNI untuk pergeseran satu heli dari Lawu digeser ke Sumbing. Ini ada beberapa permasalahan teknis dan permasalahan lainnya di lapangan,” kata Bergas.
Meluasnya area terdampak menjadi tantangan tersendiri bagi tim gabungan. Selain pemadaman, pengawasan dan pencegahan penyebaran api tetap menjadi prioritas agar kebakaran tidak menjangkau kawasan lain yang berpotensi terdampak. (red/akha)











