Surabaya Berduka, Ketua DPRD Adi Sutarwijono Wafat di Usia 57 Tahun

oleh
banner 468x60

SUARASMR.NEWS – Kota Surabaya kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Ketua DPRD Surabaya, Adi Sutarwijono, meninggal dunia pada 10 Februari 2026 di RS MRCCC Jakarta setelah menjalani perawatan intensif. Ia wafat pada usia 57 tahun.

Kepergiannya meninggalkan duka sekaligus catatan panjang perjalanan hidup dari dunia jurnalistik hingga memimpin lembaga legislatif di kota terbesar kedua di Indonesia.

banner 719x1003

Dari Wartawan ke Pimpinan DPRD: Pria yang akrab disapa Awi ini lahir di Blitar, 4 Agustus 1968, dan merupakan lulusan FISIP Universitas Airlangga. Karier profesionalnya dimulai sebagai wartawan Harian Surya pada 1996, di masa-masa akhir Orde Baru. Ia kemudian bergabung dengan Majalah Tempo pada era awal Reformasi.

Pengalaman di dunia pers membentuk karakternya: teliti, berbasis data, dan terbiasa melihat persoalan dari berbagai sudut pandang. Nilai-nilai itu kelak terbawa dalam gaya kepemimpinannya di politik.

Pada 2003, Awi bergabung dengan PDI Perjuangan. Ia mulai duduk di DPRD Surabaya pada 2012 melalui mekanisme pergantian antarwaktu. Ia terpilih kembali dalam Pemilu 2014, 2019, dan 2024. Ia dipercaya memimpin DPRD Surabaya pada periode 2019–2024 dan kembali terpilih untuk periode 2024–2029.

Memimpin di Tengah Dinamika Politik: Sebagai Ketua DPRD, Awi memegang peran penting dalam fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Dengan APBD Surabaya yang mencapai belasan triliun rupiah dalam beberapa tahun terakhir, peran DPRD menjadi sangat strategis dalam memastikan anggaran tepat sasaran dan transparan.

Di bawah kepemimpinannya, DPRD Surabaya dikenal cukup terbuka dalam dialog antarfraksi. Ia sering disebut memiliki gaya kepemimpinan yang sabar dan komunikatif, terutama dalam meredam perbedaan pandangan politik.

banner 484x341

Namun perjalanan politiknya tidak selalu mulus. Pada Mei 2025, ia dicopot dari jabatan Ketua DPC PDI Perjuangan Surabaya setelah evaluasi internal partai terkait hasil Pemilu 2024. Meski begitu, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai Ketua DPRD hingga akhir hayat.

Baca Juga :  Dampak Erupsi Gunung Lewotobi 22 Penerbangan Internasional Dibatalkan di Bandara Ngurah Rai

Hal ini menunjukkan bahwa dinamika partai dan jabatan publik bisa berjalan secara berbeda, namun tetap dalam koridor aturan dan mekanisme organisasi.

Warisan dan Pelajaran Penting: Kepergian Awi terjadi di tengah tuntutan publik yang semakin tinggi terhadap kinerja dan integritas wakil rakyat. DPRD sering kali dipersepsikan hanya sebagai arena politik anggaran, padahal perannya jauh lebih besar dalam mengawal kebijakan publik.

Ada beberapa pelajaran penting dari perjalanan hidupnya:

Pertama, pentingnya latar belakang profesional sebelum terjun ke politik. Pengalaman Awi sebagai wartawan memberinya kemampuan membaca isu publik dan membangun komunikasi yang efektif.

Kedua, pentingnya transparansi dan komunikasi dengan masyarakat. DPRD ke depan dituntut semakin terbuka, termasuk memanfaatkan teknologi digital agar proses legislasi dan penganggaran dapat dipantau publik.

Ketiga, penguatan kelembagaan. DPRD tidak boleh bergantung pada satu figur saja. Sistem pendukung, riset kebijakan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia harus terus diperkuat.

Lebih dari Sekadar Tokoh Politik: Ucapan duka juga datang dari berbagai pihak, termasuk Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Surabaya. Hal ini menunjukkan luasnya jejaring dan peran Surabaya sebagai kota yang aktif dalam kerja sama internasional.

Namun lebih dari itu, Adi Sutarwijono adalah bagian dari perjalanan demokrasi lokal Surabaya. Ia pernah berada di balik pena sebagai pengamat kebijakan, lalu berdiri di panggung politik sebagai pembuat kebijakan.

Kini, setelah kepergiannya, tantangan terbesar adalah memastikan DPRD Surabaya tetap menjadi rumah aspirasi rakyat, bukan sekadar arena kepentingan politik.

Warisan sejatinya bukan hanya jabatan yang pernah diemban, tetapi nilai yang ditinggalkan: integritas, dialog, dan kesiapan menerima evaluasi. Surabaya berduka. Namun demokrasi harus terus berjalan. (red/agus)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *