SUARASMR.NEWS – Ramadhan selalu datang dengan suasana syahdu. Sahur yang hangat, doa yang mengalun, dan meja berbuka yang menyatukan keluarga.
Namun di balik kekhidmatan itu, ada satu hal yang kerap luput cara kita mengajarkan puasa kepada anak. Puasa bagi orang dewasa adalah kewajiban. Bagi anak, ia adalah proses belajar.
Maka yang dibutuhkan bukan tuntutan, melainkan tuntunan. Bukan kompetisi siapa paling kuat menahan lapar, tetapi ruang aman untuk mengenal makna sabar, empati, dan syukur.
Gagasan “Ramadhan Ramah Anak” yang digaungkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak seharusnya menjadi pengingat yaitu kepentingan terbaik bagi anak adalah prioritas.
Anak yang belum siap secara fisik atau emosional tidak boleh dipaksa atas nama kesalehan. Islam sendiri mengajarkan proses yang bertahap, penuh hikmah.
Mengajarkan puasa sejatinya bukan sekadar melatih menahan lapar, tetapi menanamkan nilai dengan cinta. Sahur bisa menjadi ruang dialog.
Berbuka bisa menjadi momen berbagi. Ketika anak merasa dihargai, puasa bukan beban melainkan kenangan spiritual yang membahagiakan.
Ramadhan yang ideal bukanlah yang paling keras aturannya, melainkan yang paling lembut sentuhannya. Sebab dari cara kita membimbing hari ini, tumbuh karakter generasi esok. (red/akha)












