Cabai “Membara” Jelang Ramadhan Harga Nyaris Rp100 Ribu, Indef Bongkar Biang Keroknya

oleh
banner 468x60

SUARASMR.NEWS – Jelang Ramadan 1447 Hijriah, harga cabai rawit merah kembali “membakar” kantong masyarakat.

Dalam sepekan terakhir, harga di sejumlah pasar tradisional masih bertengger di kisaran Rp80.000 per kilogram (kg), bahkan sebelumnya sempat meroket hingga Rp90.000–Rp100.000 per kg.

banner 719x1003

Fenomena ini bukan hal baru. Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menyebut lonjakan tersebut sebagai “inflasi musiman” yang terus berulang saban Ramadan dan Lebaran.

“Kenaikan harga cabai dan kebutuhan pangan merupakan seasonal inflation yang hampir selalu terjadi saat Ramadan dan Lebaran, ditambah pengaruh cuaca,” ujar Esther di Jakarta saat dihubungi suarasmr.news, Rabu (18/2/2026).

Menurutnya, pola kenaikan harga hortikultura seperti cabai rawit merah hampir selalu terjadi setiap tahun. Curah hujan tinggi menghambat panen dan aktivitas petik, sehingga pasokan ke pasar tersendat. Akibatnya, hukum pasar bekerja: stok seret, harga melonjak.

Esther menegaskan, kondisi ini seharusnya bisa diprediksi. “Pemerintah dan pelaku pasar mestinya sudah bisa mengantisipasi, karena ini berulang setiap tahun,” tegasnya.

Esther juga mengingatkan, kebijakan penetapan harga batas bawah (floor price) maupun batas atas (ceiling price) berpotensi tak efektif bila tidak dibarengi jaminan pasokan. Bahkan, data historis menunjukkan kebijakan semacam itu bisa membuat barang “menghilang” dari pasar.

banner 484x341

“Kalau hanya menetapkan harga tanpa memastikan pasokan, biasanya tidak digubris. Justru bisa membuat barang langka,” kata Esther menegaskan.

Langkah yang dinilai lebih ampuh adalah memperkuat operasi pasar dan menambah pasokan langsung ke pasar-pasar utama, terutama menjelang lonjakan permintaan saat Ramadan dan Idul Fitri.

Berdasarkan pantauan di Pasar Induk Kramat Jati, pasokan cabai rawit merah sebenarnya masih relatif tersedia. Bahkan, kiriman dari luar Jawa seperti Sulawesi Selatan mencapai sekitar 20 ton per hari.

Baca Juga :  BNI dengan Pemerintah Koordinasi  Menyusul Penolakan Kasasi Pailit Sritex

Namun, harga di tingkat konsumen tetap tinggi karena ongkos distribusi yang bisa mencapai Rp10.000 per kg. Esther menyoroti pentingnya teknologi pascapanen agar cabai lebih tahan lama dan pasokan tidak sepenuhnya bergantung musim.

Ia mencontohkan praktik di Belanda, di mana petani apel mampu menyimpan hasil panen dengan teknologi pengawetan modern. Hasilnya? Harga stabil, pasokan tersedia sepanjang tahun.

“Saat panen, harga tidak anjlok. Saat tidak musim, masyarakat tetap bisa membeli dengan harga standar,” jelasnya.

Sementara itu, pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan langkah Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP). Skema ini memungkinkan pemerintah menanggung sebagian biaya logistik dari sentra produksi ke pasar konsumsi.

Tujuannya jelas, menjaga pasokan tetap mengalir dan meredam gejolak harga di tingkat konsumen menjelang Ramadan dan Idul Fitri.

Dengan pola yang terus berulang setiap tahun, publik kini menanti langkah konkret agar “si merah pedas” tak lagi membakar dompet saat bulan suci tiba.

Apakah intervensi distribusi mampu meredam gejolak? Atau harga cabai akan kembali menari di level panas ekstrem? Masyarakat menanti langkah pemerintah. (red/ria)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *