SUARASMR.NEWS – Fenomena tiket pesawat dalam negeri yang kerap lebih mahal ketimbang terbang ke luar negeri, seperti Singapura, akhirnya dibuka terang-terangan oleh Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi.
Dikatakan oleh Menteri Perhubungan bahwa dua faktor krusial disebut menjadi “biang keladi” mahalnya ongkos terbang di Indonesia: Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan harga avtur yang melambung.
“Kenapa tiket ke Singapura bisa lebih murah? Salah satunya karena tidak dikenakan PPN,” ujar Dudy, dikutip dari detikFinance, Kamis (15/1/2026).
Dudy mengungkapkan, hingga kini tiket penerbangan domestik masih dibebani PPN, sementara penerbangan internasional bebas dari pungutan tersebut.
Kebijakan ini dinilai menjadi salah satu penyebab utama tingginya biaya perjalanan udara di dalam negeri, yang kerap membuat masyarakat geleng-geleng kepala.
Pemerintah pun tak tinggal diam. Kementerian Perhubungan tengah berkoordinasi intensif dengan Kementerian Keuangan untuk mencari jalan keluar dari persoalan klasik ini.
Namun, Dudy mengakui, penghapusan atau pengurangan PPN bukan perkara mudah, mengingat pajak tersebut menjadi salah satu tulang punggung penerimaan negara.
“Saya harus melihat kondisi fiskal kita. Undang-undang mengatur PPN itu wajib. Jadi kalau mau dikurangi atau dibebaskan, harus melalui kajian yang sangat mendalam.
Tapi harapannya, kalau bisa dilakukan, penerbangan domestik akan jauh lebih bergairah,” tegasnya.
Tak hanya pajak, harga bahan bakar avtur juga menjadi faktor penentu mahalnya tiket pesawat nasional. Dudy mencontohkan rute Singapura–Jakarta, di mana maskapai menerapkan strategi double uplift mengisi bahan bakar penuh di Singapura yang harga avturnya jauh lebih murah dibandingkan Indonesia.
“Mereka tidak mengisi avtur di sini, tapi di Singapura. Otomatis biaya operasionalnya lebih rendah,” ungkap Dudy blak-blakan.
Isu mahalnya tiket pesawat Indonesia bukan sekadar keluhan publik. Ketua Dewan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan, bahkan pernah menyebut bahwa harga tiket pesawat Indonesia termasuk yang termahal di dunia.
“Jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN dan negara berpenduduk besar, harga tiket penerbangan Indonesia termahal kedua setelah Brasil,” kata Luhut.
Pernyataan ini kian menegaskan urgensi pembenahan sektor penerbangan nasional. Jika tak segera diatasi, mahalnya tiket pesawat bukan hanya membebani masyarakat, tetapi juga berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dan pariwisata dalam negeri. (red/hil)












