SUARASMR.NEWS JAKARTA – Film Indonesia kembali mencuri perhatian di panggung perfilman dunia. Sutradara Eddie Cahyono sukses membawa film “IBUKU” (My Mother) meraih penghargaan Special Jury Award dalam Festival Film Internasional Busan (BIFF) 2026 di Korea Selatan.
Prestasi ini menjadi sorotan karena film yang dibintangi aktris senior Christine Hakim tersebut juga masuk kompetisi utama BIFF, ajang yang tahun ini turut menjadi perhatian industri perfilman internasional dalam kaitannya dengan jalur menuju Academy Awards atau Oscar 2027.
Mengutip laporan The Hollywood Reporter (THR), Kamis (15/10/2026), “IBUKU” mengangkat kisah seorang janda yang terjerat utang judi peninggalan mendiang suaminya. Terdesak keadaan, ia terpaksa mengatur pernikahan putri satu-satunya. Keputusan itu kemudian memicu konflik emosional ibu dan anak yang sarat penderitaan.
Dengan mengangkat persoalan keluarga, tekanan ekonomi, dan pilihan hidup yang menyakitkan, film ini menghadirkan drama yang dekat dengan realitas sosial. Performa Christine Hakim menjadi salah satu daya tarik utama dalam karya yang membawa kisah keluarga Indonesia ke hadapan penonton internasional tersebut.
“IBUKU” Masuk Persaingan Menuju Oscar 2027: Tak hanya membawa pulang penghargaan juri khusus, “IBUKU” juga bersaing dalam program Main Competition BIFF bersama film Indonesia lainnya, “Laut Bercerita” (The Sea Speaks His Name) karya sutradara Yosep Anggi Noen.
Partisipasi kedua film tersebut menempatkan karya sineas Indonesia dalam persaingan di salah satu festival film penting di Asia. Namun, penghargaan juri khusus yang diraih “IBUKU” tidak otomatis menjadikannya wakil Indonesia ataupun memastikan tempat di nominasi Oscar 2027.
Berdasarkan aturan baru Academy yang diberitakan, pemenang film terbaik dari festival-festival tertentu yang diakui dapat memenuhi jalur pengajuan untuk dipertimbangkan dalam kategori International Feature Film tanpa harus terlebih dahulu dipilih melalui mekanisme seleksi nasional.
Festival yang tercakup antara lain Busan, Cannes, Venice, Berlin, Sundance, dan Toronto. Sejumlah film lain yang disebut memenuhi ketentuan tersebut adalah “Shame and Money” dan “To Hold a Mountain” dari Sundance, “Yellow Letters” dari Berlin, “Fjord” dan “Woman Unknown” dari Cannes, serta “Angh” dari Toronto.
Film Iran Rebut Penghargaan Film Terbaik: Dalam kompetisi utama BIFF 2026, penghargaan film terbaik diraih “Midday Meal”, karya sutradara Iran Majid Majidi.
Menurut laporan THR, keputusan tersebut diambil secara bulat oleh tujuh anggota juri yang terdiri atas legenda perfilman China Zhang Yimou, sutradara China Bi Gan, aktris Korea Moon Choi, sineas Jepang Kei Ishikawa, sutradara Korea July Jung, produser Vietnam Tran Thi Bich Ngoc, dan aktris Kazakhstan Samal Yeslyamova.
“Midday Meal” berkisah tentang Davoud Soulan, diperankan Mohammad Rahimi, seorang guru kontrak di desa terpencil di Iran tenggara. Demi menyediakan makan siang bagi murid-muridnya, ia mengambil langkah nekat, termasuk menyelundupkan bahan bakar melintasi perbatasan yang berbahaya.
Sementara itu, Lee Yun Chan dari Taiwan meraih penghargaan sutradara terbaik melalui film “To Be Ordinary”, yang mengisahkan sebuah keluarga dengan hubungan renggang yang diuji oleh kecelakaan tragis.
Penghargaan aktor terbaik diberikan kepada Zhou Xun dari China lewat “The First Taste of Loneliness” dan pendatang baru Jepang Kashun Himeno melalui “Satoko Always”. Film “The First Taste of Loneliness” juga meraih penghargaan kontribusi artistik untuk penata suara Li Danfeng.
Penghargaan bagi “IBUKU” menambah catatan kiprah perfilman Indonesia di panggung internasional. Di tengah persaingan ketat dengan karya-karya dari berbagai negara, film Eddie Cahyono menghadirkan cerita tentang luka keluarga dan pergulatan hidup yang berhasil menarik perhatian juri festival di Busan. (red/niluh)











