Fadli Zon Gebrak Dunia Perfilman: Kisah Perjuangan Kemerdekaan Bakal Hidup Lagi di Layar Lebar

oleh

SUARASMR.NEWS JAKARTA – Sejarah perjuangan bangsa Indonesia tak boleh berhenti sebagai deretan nama, tanggal, dan peristiwa di buku pelajaran. Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon ingin kisah heroik para pejuang kembali “hidup” dan menyentuh generasi masa kini melalui layar lebar.

Langkah itu diwujudkan Kementerian Kebudayaan melalui Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan, sebuah program yang dirancang untuk menghidupkan kembali literasi kepahlawanan sekaligus memperkuat memori kolektif bangsa melalui medium sinema.

banner 930x110

Fadli menilai film memiliki kekuatan luar biasa untuk membuat sejarah lebih dekat, mudah dipahami, sekaligus relevan bagi masyarakat. Menurutnya, film kepahlawanan harus dikemas secara kreatif, inspiratif, mudah dicerna dan diakses masyarakat, namun tetap berpegang pada riset serta akurasi sejarah.

“Membantu memperkuat industri perfilman nasional, memberi dampak manfaat ekonomi yang luas, terciptanya ruang sinergi dan kolaborasi antara sineas, sejarawan, akademisi, pelaku industri dalam mengembangkan karya berbasis sejarah,” ujar Fadli dalam taklimat media “Pengumuman Sayembara Produksi Film Narasi Kepahlawanan” di Jakarta, Jumat (4/9) malam.

Bukan Sekadar Film, Tapi Menghidupkan Ingatan Bangsa : Fadli menegaskan, program tersebut bukan semata-mata untuk melahirkan film baru. Lebih dari itu, pemerintah ingin menghadirkan kembali kisah perjuangan bangsa dengan bahasa sinema yang mampu menjangkau masyarakat luas.

Genre kepahlawanan dinilai masih membutuhkan afirmasi agar memiliki ruang yang lebih kuat dalam industri perfilman nasional.

“Kita tahu bahwa kalau film-film lain, drama yang lain atau film horor atau film cerita yang lain sudah menjadi bagian dari ekosistem yang telah hadir di tengah-tengah masyarakat dengan 67 persen market share di bioskop-bioskop kita,” tuturnya.

Karena itu, Kementerian Kebudayaan berupaya mendorong lahirnya karya-karya yang membawa nilai patriotisme, nasionalisme, keteladanan, serta semangat perjuangan.

Baca Juga :  Kartini Masa Kini: Jessica Iskandar dan Maudy Ayunda Ajak Perempuan Berani Melangkah dan Jadi Diri Sendiri

Perang Mempertahankan Kemerdekaan Jadi Sorotan : Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah memilih salah satu periode paling menentukan dalam sejarah Indonesia, yakni era perang mempertahankan kemerdekaan 1945–1950.

Fadli mengingatkan bahwa Proklamasi 17 Agustus 1945 bukanlah garis akhir perjuangan bangsa. Kemerdekaan yang diproklamasikan harus dipertahankan dengan darah, pengorbanan, keberanian, dan perjuangan menghadapi upaya Belanda untuk kembali menguasai Indonesia.

“Walaupun sudah ada proklamasi 17 Agustus tahun 1945, sebagaimana kita ketahui waktu itu belum sepenuhnya langsung bisa menikmati kemerdekaan. Tetap ada perjuangan karena para penjajah akan kembali lagi,” kata Fadli.

Berbagai peristiwa besar terjadi dalam periode tersebut, mulai dari Agresi Militer Belanda I, Agresi Militer Belanda II, terbentuknya Republik Indonesia Serikat, hingga kembalinya Indonesia menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1950. Bagi Fadli, rentetan peristiwa itu menyimpan begitu banyak kisah kepahlawanan yang layak dikenal kembali oleh generasi sekarang.

Fadli mengatakan periode perjuangan 1945–1950 sebenarnya telah banyak ditulis oleh para sejarawan. Namun, catatan sejarah yang tebal belum tentu mudah dibaca dan dipahami masyarakat luas. Film diharapkan menjadi jembatan untuk mengubah sejarah yang selama ini terasa jauh menjadi cerita yang hidup dan menggugah.

“Sehingga ketika ini diangkat menjadi film, tentu ini akan lebih menarik dan semua unsur-unsur nilai-nilai kepahlawanan, keteladanan, perjuangan, dan drama di sekitar perang mempertahankan kemerdekaan itu tetap semakin relevan,” ujarnya.

Dengan demikian, sejarah tidak hanya dikenang, tetapi juga dapat dirasakan kembali melalui karakter, konflik, pengorbanan, dan perjuangan yang ditampilkan di layar. 20 Film Menang, Ratusan Proposal Berebut Kesempatan:

Antusiasme insan perfilman terhadap program tersebut cukup besar. Dari proses seleksi yang dilakukan, terdapat 143 proposal yang masuk, terdiri atas 54 proposal film panjang dan 89 proposal film pendek. Lebih dari 420 produser, sutradara, dan penulis naskah terlibat dalam proposal-proposal tersebut.

Baca Juga :  Dakon, Lebih dari Sekadar Permainan Tapi Filosofi Hidup Warisan Leluhur 

Setelah melewati tahapan peluncuran program, sosialisasi, pendaftaran, seleksi administrasi dan substantif, pitching hingga rapat pleno dewan juri, akhirnya ditetapkan 20 pemenang, terdiri atas tujuh film panjang dan 13 film pendek.

Tujuh film panjang yang menjadi pemenang yakni “Barisan Penghibur”, “Hoegeng: Yang Ada Tinggal Nama”, “Rengasdengklok”, “Kapalselam Kalibayam”, “Sakura di Telawang”, “Rai”, dan “Pintu Tertutup”.

Sedangkan 13 film pendek pemenangnya adalah “Arang Kobar Juang”, “Belantara Raya”, “Buleun Purnama, di Nanggroe”, “Darah Djoeang”, “Desing Peluru Tak Bertuan”, “Ibu Raih”, “Jam 7 Pagi (Makassar, 1947)”, “Menara Terakhir”, “Operasi Malino: Lembar yang Hilang”, “Seriboe Soedirman”, “Suara Republik”, “Timur 1950”, dan “Yang Tenggelam Saat Fajar”.

Fadli berharap karya-karya tersebut tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal kembali sejarah perjuangan bangsa.

“Dan yang tak kalah penting, ini menunjukkan besarnya perhatian insan perfilman terhadap narasi perjuangan dan kepahlawanan bangsa dan komitmen menanamkan semangat kebangsaan, mempromosikan budaya dan juga sejarah kita,” pungkasnya. (red/ria)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *