Berbeda Hari Raya, Satu TuhanMerawat Ukhuwah di Tengah Perbedaan
Oleh: Mahsus Zainal Arif
SUARASMR.NEWS – Perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah telah kita lalui dengan satu kenyataan yang kembali terulang, perbedaan waktu dalam merayakannya. Sebagian umat Islam menunaikan hari kemenangan pada 20 Maret 2026, sementara yang lain pada 21 Maret 2026.
Namun sejatinya, perbedaan itu tidak pernah menyentuh inti keimanan—karena Tuhan yang disembah tetap satu, dan kiblat yang dituju tetap sama.
Dalam khazanah Islam, perbedaan penentuan awal bulan Hijriah melalui metode rukyat dan hisab bukanlah hal baru.
Rukyat berpijak pada sunnah Nabi yang menekankan pengamatan hilal secara langsung, sementara hisab lahir dari kemajuan ilmu pengetahuan yang membantu membaca tanda-tanda langit dengan perhitungan yang presisi.
Keduanya tidak bertentangan dalam tujuan, melainkan berjalan dalam satu semangat: menunaikan syariat dengan penuh kesungguhan.
Di sinilah kedewasaan iman diuji. Perbedaan seharusnya tidak menjelma menjadi perpecahan, apalagi melahirkan sikap saling menyalahkan.
Tidak elok jika perbedaan ijtihad ini berujung pada vonis benar-salah yang sempit, bahkan sampai menuduh pihak lain tidak taat atau menyimpang.
Sebab dalam Islam, ruang ijtihad adalah ruang yang dihormati, selama dilandasi ilmu dan niat yang lurus.
Keindahan Islam justru tampak ketika umatnya mampu menjaga ukhuwah di tengah ragam perbedaan.
Persaudaraan tidak dibangun dari keseragaman, tetapi dari kemampuan untuk saling memahami, menghormati, dan menahan lisan dari hal-hal yang melukai.
Hari Raya bukan sekadar soal tanggal, melainkan momentum kembali kepada fitrah. Fitrah yang bersih dari prasangka, lapang dalam menerima perbedaan, dan kokoh dalam persaudaraan.
Sebab kemenangan sejati bukanlah ketika semua merayakan di hari yang sama, tetapi ketika hati tetap bersatu dalam iman, saling memaafkan, dan semakin dekat kepada Allah.
Maka, mari kita rawat kebersamaan ini dengan kebijaksanaan. Biarkan perbedaan tetap menjadi rahmat, bukan sebab perpecahan.
Karena pada akhirnya, kita semua bersujud kepada Tuhan yang sama, dalam harapan yang sama, menjadi hamba yang lebih baik setelah Ramadhan. (red)













