SUARASMR.NEWS – Geliat pariwisata di Bali kembali menunjukkan tajinya. Hingga Februari 2026, sektor ini menjadi mesin utama pundi-pundi negara dengan menyumbang penerimaan pajak fantastis mencapai Rp2,25 triliun.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Bali, Darmawan, mengungkapkan bahwa sektor pariwisata khususnya akomodasi dan kuliner tumbuh signifikan hingga 31,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Lonjakan ini menjadi sinyal kuat bahwa denyut ekonomi Pulau Dewata kembali hidup, didorong oleh membanjirnya wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Pariwisata masih menjadi tulang punggung ekonomi Bali,” tegas Darmawan kepada wartawan, Rabu (1/4/2026).
Tak hanya besar, pertumbuhan ini juga konsisten. Dibanding Februari 2025, penerimaan pajak Bali melonjak 13,60 persen dari Rp1,98 triliun menjadi Rp2,25 triliun di tahun ini.
Meski baru mencapai 9,26 persen dari target ambisius 2026 sebesar Rp24,31 triliun, tren positif ini dinilai sebagai awal yang menjanjikan.
Sektor-sektor penyumbang pajak terbesar: Perdagangan: Rp383,45 miliar (17%). Akomodasi & makan minum: Rp358,33 miliar (15,91%). Keuangan & asuransi: Rp300,46 miliar (13,34%). Real estat: Rp182,86 miliar (8,12%). Industri pengolahan: Rp178,18 miliar (7,91%).
Selain itu, sektor administrasi pemerintahan, jasa profesional, hingga informasi dan komunikasi juga ikut menyumbang, memperlihatkan ekonomi Bali yang semakin beragam dan solid.
Menariknya, hampir seluruh jenis pajak mengalami pertumbuhan—sebuah indikator kuat bahwa pemulihan ekonomi bukan sekadar wacana, melainkan nyata terjadi.
Di sisi lain, tingkat kepatuhan wajib pajak juga menunjukkan angka yang impresif. Tercatat sebanyak 156.037 SPT Tahunan PPh 2025 telah dilaporkan, didominasi oleh wajib pajak orang pribadi.
Pemerintah pun memberikan kelonggaran dengan memperpanjang batas pelaporan hingga 30 April 2026, lengkap dengan penghapusan sanksi administratif.
Dengan tren positif ini, Bali tak hanya kembali sebagai destinasi wisata kelas dunia, tetapi juga sebagai lokomotif ekonomi yang terus melaju kencang.
Pertanyaannya kini: mampukah Pulau Dewata mempertahankan momentum emas ini hingga akhir tahun? Publik menanti gebrakan berikutnya. (red/niluh)












