SUARASMR.NEWS – Direktur Pemberitaan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA, Irfan Junaidi, mengungkapkan bahwa kelompok kekerasan semakin gencar memanfaatkan media sosial sebagai sarana penyebaran paham radikalisme dan terorisme.
“Media sosial lebih terbuka dibanding media massa yang memiliki proses penyaringan informasi ketat. Di medsos, arus informasi nyaris tanpa filter,” ujar Irfan usai menerima kunjungan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) di Jakarta, Senin (22/9/2025).
Menurutnya, perkembangan teknologi digital ibarat dua sisi mata pedang. Di satu sisi, medsos memudahkan akses informasi yang cepat dan luas, namun di sisi lain menjadi lahan empuk bagi kelompok radikal untuk berkampanye, merekrut anggota, hingga menyebarkan propaganda.
“Tidak tertutup kemungkinan mereka memanfaatkan kekuatan digital untuk merekrut, mendanai, bahkan merencanakan aksi,” tegasnya.
Temuan BNPT memperkuat pernyataan tersebut. Sepanjang 1 Januari hingga 26 Agustus 2025, tercatat 6.402 konten bermuatan radikalisme dan terorisme tersebar di berbagai platform.
Rinciannya mencakup propaganda (4.863 temuan), pendanaan (424), pelaksanaan serangan (817), perekrutan (108), pelatihan (73), hingga perencanaan aksi (24).
Distribusi konten radikal ini pun mengejutkan. Facebook menjadi sarang terbesar dengan 5.074 akun bermuatan radikalisme, disusul WhatsApp (394 akun/grup), media daring (433 link), Instagram (222 akun), Twitter/X (159 akun), Telegram (93 akun/grup), TikTok (23 akun), dan YouTube (4 akun).
Melihat ancaman tersebut, ANTARA berkomitmen mendukung upaya pencegahan dengan kampanye literasi digital dan anti-terorisme bersama BNPT. “Ini pekerjaan rumah bersama. Media arus utama harus jadi benteng informasi yang sehat,” kata Irfan.
Kolaborasi ANTARA dan BNPT diharapkan mampu memperkuat pertahanan informasi nasional, melindungi masyarakat dari jebakan ideologi radikal, serta menegaskan peran media sebagai garda terdepan melawan terorisme di era digital. (red/ria)












