Menggali Kedalaman Filsafat Jawa: “Sangkan Paraning Dumadi”, Jalan Pulang Menuju Kesempurnaan

oleh
banner 468x60

SUARASMR.NEWS – Jawa tak hanya dikenal sebagai pusat tradisi dan budaya, tetapi juga sebagai ladang subur lahirnya pemikiran filsafat yang mendalam.

Salah satu ajaran paling luhur yang terus hidup hingga kini adalah konsep sangkan paraning dumadi sebuah pandangan spiritual tentang asal-usul dan tujuan akhir kehidupan manusia.

banner 719x1003

Sekilas, konsep ini tampak sederhana, hanya membahas dari mana manusia berasal dan ke mana ia akan kembali. Namun di balik itu, tersimpan kedalaman makna yang menggambarkan religiusitas tinggi masyarakat Jawa dalam memaknai kehidupan.

Bagi orang Jawa, hidup di dunia hanyalah sementara urip mung mampir ngombe, sekadar singgah untuk “minum”. Dunia bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang menuju kesempurnaan hidup yang disebut ngudi kasampurnan.

Namun perjalanan itu tidak mudah. Manusia dituntut untuk mengenali jati dirinya, memahami asal-usul keberadaannya, sekaligus menyadari tujuan akhir hidupnya.

Dalam pandangan Kejawen, seluruh alam semesta diliputi oleh esensi Yang Maha Kuasa sering disebut sebagai Gusti, Tuhan, atau dengan istilah khas Jawa: “Ono Tan Kinoyo Ngopo”, sesuatu yang tak dapat dibayangkan oleh akal manusia.

Konsep ini menjelaskan bahwa manusia terdiri dari dua unsur utama: badan (materi) dan jiwa (spiritual). Tubuh terbentuk dari empat unsur alam api, tanah, air, dan udara yang juga menyusun jagat raya.

banner 484x341

Pandangan ini sekilas sejalan dengan pemikiran René Descartes tentang dualisme tubuh dan jiwa, serta Empedocles yang menyebut empat unsur dasar alam.

Namun filsafat Jawa melangkah lebih jauh. Ia tidak memisahkan tubuh dan jiwa secara kaku. Keduanya berasal dari satu kesatuan awal yang disebut pancer.

Dari sinilah lahir konsep sedulur papat limo pancer, yang menggambarkan keterhubungan spiritual manusia dengan asal-usulnya.

Baca Juga :  Amelia Anggraini Dorong Platform Digital Dukung Budaya Lokal dalam Revisi UU Penyiaran

Lebih dari itu, manusia diyakini lahir melalui kehendak Ilahi, tetapi melalui proses suci: kasih sayang orang tua. Karena itu, dalam tradisi Jawa, orang tua menempati posisi sakral yang harus dihormati sepanjang hayat.

Simbolisasi ini tampak dalam tradisi jenang abang dan jenang putih, yang melambangkan asal-usul kehidupan dari ayah dan ibu.

Perjalanan hidup manusia kemudian disebut sebagai cakra manggilingan siklus kehidupan yang terus berputar. Meski terasa panjang, sejatinya ini hanyalah tahap menuju tujuan akhir: kembali kepada Sang Pencipta.

Dalam falsafah Jawa, kehidupan terbagi dalam tiga alam: Alam purwa (sebelum lahir). Alam madya (dunia). Alam wasana (setelah kematian)

Kehidupan di dunia hanyalah persinggahan sementara sebelum kembali ke keabadian. Inilah makna sejati dari paraning dumadi tujuan akhir seluruh makhluk.

Konsep sangkan (asal) dan paran (tujuan) tak bisa dipisahkan. Keduanya menjadi satu kesatuan utuh yang menuntun manusia untuk hidup selaras dengan kehendak Ilahi.

Dalam perjalanan itu, manusia dihadapkan pada hukum sebab-akibat: kebaikan akan berbuah terang (karmapala padhang), sementara keburukan akan berujung gelap (karmapala peteng).

Karena itu, masyarakat Jawa memegang teguh prinsip hidup: mamayu hayuning bawana memelihara keharmonisan dunia. Nilai ini hanya bisa diwujudkan dengan sikap sepi ing pamrih, rame ing gawe, serta kasih sayang terhadap sesama (asih ing sasami).

Pada akhirnya, sangkan paraning dumadi bukan sekadar ajaran filsafat, melainkan kompas hidup. Ia mengingatkan manusia bahwa hidup bukan hanya tentang dunia, tetapi tentang perjalanan pulang menuju Sang Sumber Kehidupan. (red/akha)

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *