Kisah Haru Fransiska, Perawat Tangguh yang Bertaruh Tenaga Demi Keselamatan Tamu Allah di Makkah

oleh
banner 468x60

SUARASMR.NEWS – Di tengah sengatan matahari ekstrem yang membakar kawasan Terminal Jabal Ka’bah, Makkah, sosok perempuan tangguh bernama Fransiska Mainake (38) berdiri tanpa gentar.

Dengan langkah sigap dan hati penuh pengabdian, ia menjadi salah satu garda terdepan penyelamat jamaah haji Indonesia di Tanah Suci.

banner 720x1000

Perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur keturunan Ambon itu sehari-hari bertugas sebagai perawat di RSPAD Gatot Soebroto.

Namun saat musim haji tiba, Fransiska memilih meninggalkan rutinitasnya demi mengemban misi mulia sebagai petugas Penanganan Krisis dan Pertolongan Pertama pada Jamaah Haji (PKP2JH) di Sektor Khusus Masjidil Haram.

Baginya, tugas ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan hati dan ibadah. “Motivasi saya ingin melayani jamaah haji Indonesia dari sisi medis, sekaligus beribadah,” ungkap Fransiska penuh haru.

Setiap hari, Fransiska berjibaku di tengah lautan manusia yang memadati area terminal dan Masjidil Haram.

Ia harus siap menghadapi berbagai situasi darurat, mulai dari jamaah kelelahan akibat cuaca panas, pingsan, hingga kondisi kritis yang bisa terjadi kapan saja.

Tak hanya sigap menyelamatkan nyawa, Fransiska juga aktif memberikan edukasi kesehatan kepada jamaah, khususnya mereka yang berisiko tinggi.

Langkah ini dilakukan agar para calon haji tetap kuat menjalani ibadah umrah wajib hingga puncak haji.

Namun medan tugas yang dihadapi tidaklah mudah. Suhu panas ekstrem dan padatnya jutaan jamaah membuat tugas kemanusiaan itu sangat menguras fisik dan mental.

Karena itulah, para petugas menerapkan sistem buddy system demi keselamatan bersama. Tidak ada petugas yang diperbolehkan bekerja sendirian di lapangan.

Mereka harus selalu saling mendampingi dalam setiap patroli dan penanganan darurat. Meski penuh tantangan, ada momen-momen spiritual yang membuat segala lelah terasa terbayar lunas.

banner 468x60

Salah satu pengalaman paling membekas bagi Fransiska terjadi ketika ia menemukan seorang jamaah lansia yang kebingungan di kawasan Dar Al Tawhid. Jamaah tersebut menangis ingin sekali bisa shalat tepat di depan Ka’bah.

Baca Juga :  May Day 2026 Bikin Gambir Siaga! 12 Kereta Jarak Jauh Dialihkan Berhenti di Jatinegara, Penumpang Wajib Tahu

Tanpa ragu, Fransiska menggandeng dan mengantarkan jamaah itu menembus padatnya kerumunan hingga akhirnya tiba di depan Baitullah.

“Saat sampai di depan Ka’bah, beliau menangis sambil menggenggam tangan saya erat sekali karena takut hilang. Beliau sangat bersyukur,” kenang Fransiska dengan mata berkaca-kaca.

Pengalaman melayani para jamaah lanjut usia juga meninggalkan pelajaran hidup yang mendalam baginya. Ia menyaksikan sendiri bagaimana para lansia rela menunggu bertahun-tahun demi satu panggilan suci ke Tanah Haram.

Perjuangan panjang, kondisi fisik yang tak lagi muda, hingga perjalanan melelahkan seakan tak mampu mengalahkan tekad mereka untuk menjadi tamu Allah.

“Saya sangat terharu. Perjuangan mereka luar biasa. Melihat semangat dan keteguhan mereka untuk datang ke Tanah Suci benar-benar menakjubkan,” ujarnya.

Dedikasi Fransiska menjadi bukti bahwa pelayanan haji bukan hanya soal tugas medis, tetapi juga tentang empati, ketulusan, dan kemanusiaan.

Di balik hiruk-pikuk jutaan jamaah di Makkah, ada sosok-sosok seperti Fransiska yang rela bertaruh tenaga demi memastikan para tamu Allah tetap aman, sehat, dan bisa beribadah dengan tenang. (red/akha)

banner 930x110

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *