SUARASMR.NEWS DENPASAR – Mengeluh sering dianggap sebagai cara sederhana untuk melepaskan beban pikiran. Curhat kepada orang yang dipercaya memang dapat membuat hati lebih lega.
Namun, jika dilakukan terlalu sering dan tanpa arah, kebiasaan mengeluh justru bisa menjadi bumerang bagi kesehatan mental, tubuh, hingga hubungan sosial.
Psikolog kesehatan klinis dari SelfWorks, Kerry Cannity, PhD, mengatakan mengeluh pada dasarnya tidak selalu buruk. Dalam kondisi tertentu, mengeluh dapat membantu seseorang menyalurkan emosi negatif, mengungkapkan perasaan, sekaligus menjadi langkah awal untuk mencari solusi.
“Mengeluh bisa bermanfaat jika hal itu memungkinkan kita meluapkan emosi negatif, mengomunikasikan perasaan, dan memulai proses pemecahan masalah,” kata Cannity, sebagaimana dikutip dari Real Simple, Minggu (4/10/2026).
Menurutnya, memendam atau menyangkal emosi negatif juga bukan pilihan yang selalu sehat. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa menekan emosi dapat berdampak terhadap daya ingat, hubungan sosial, hingga kesehatan jantung.
Sebaliknya, membicarakan persoalan dengan seseorang yang bersedia mendengarkan dapat memberikan rasa dipahami dan membantu seseorang menjadi lebih tenang.
Terapis dari BetterHelp, Sarah Close, LPC, mengatakan kondisi tersebut terutama terjadi ketika lawan bicara tidak buru-buru memberikan solusi atau meminta seseorang berhenti merasakan emosi yang sedang dialaminya.
“Terutama jika mereka tidak langsung berusaha memperbaiki masalah atau menyuruh kita untuk tidak merasa demikian,” ujar Close.
Ketika Mengeluh Berubah Menjadi Kebiasaan : Persoalannya bukan semata-mata pada aktivitas mengeluh, melainkan seberapa sering seseorang melakukannya.
Cannity menjelaskan, mengeluh yang sudah menjadi kebiasaan dapat memengaruhi pola pikir seseorang. Alih-alih membantu menyelesaikan masalah, kebiasaan tersebut justru berpotensi membuat seseorang semakin fokus terhadap hal-hal yang memicu kemarahan, kecemasan, atau ketakutan.
“Jika mengeluh menjadi kebiasaan, hal itu justru dapat mulai mengubah cara kerja otak ke arah pandangan yang lebih negatif,” katanya.
Menurut Cannity, kondisi tersebut dapat meningkatkan perhatian terhadap berbagai stimulus yang memicu emosi negatif dan berkontribusi terhadap meningkatnya respons stres pada tubuh.
Dalam kondisi stres, tubuh melepaskan hormon kortisol. Jika respons stres berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat berpengaruh terhadap berbagai aspek kesehatan, termasuk kualitas tidur, tekanan darah, metabolisme, dan fungsi tubuh lainnya.
Bukan Hanya Otak, Hubungan Sosial Juga Bisa Terganggu : Dampak mengeluh secara berlebihan tidak berhenti pada kondisi psikologis. Kebiasaan tersebut juga dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan lingkungan sekitarnya.
Terapis yang berspesialisasi dalam hubungan, Mary McLaughlin, LCSW, mengatakan orang lain pada akhirnya dapat merasa lelah jika setiap percakapan selalu berujung pada keluhan.
“Jika setiap percakapan berubah menjadi ajang mengeluh, lama-kelamaan orang akan enggan melanjutkan percakapan tersebut,” kata McLaughlin.
Karena itu, penting bagi seseorang untuk melihat kembali apa yang terjadi setelah dirinya mengeluhkan suatu masalah.
Close menyarankan agar seseorang bertanya kepada dirinya sendiri apakah setelah bercerita ia merasa lebih dipahami dan mendapatkan kejelasan, atau justru semakin frustrasi dan kembali terjebak dalam persoalan yang sama.
“Apakah saya merasa lebih dipahami atau lebih jelas, atau justru menghidupkan kembali rasa frustrasi dan kembali masuk ke lingkaran yang sama?” ujar Close.
Mengeluh Boleh, tetapi Jangan Terjebak : Mengungkapkan keluhan bukan berarti seseorang lemah. Pada situasi tertentu, berbicara dan mencari dukungan justru dapat menjadi bagian dari proses menghadapi masalah.
Namun, keluhan akan lebih bermanfaat jika diarahkan pada pengenalan emosi, mencari dukungan, dan menemukan langkah penyelesaian.
Sebaliknya, jika mengeluh hanya membuat seseorang semakin marah, frustrasi, atau terus mengulang persoalan tanpa ada upaya untuk memahami maupun menyelesaikannya, kebiasaan tersebut sebaiknya mulai dikurangi.
Pada akhirnya, bukan berarti semua keluhan harus dipendam. Yang perlu dihindari adalah ketika keluhan berhenti menjadi jalan untuk melegakan hati dan berubah menjadi kebiasaan yang justru membuat pikiran semakin berat. (red/niluh)











