SUARASMR.NEWS DENPASAR – Pernah memikirkan kemungkinan buruk dari sebuah kejadian, lalu pikiran itu terus berputar di kepala meski keadaan sebenarnya sudah berubah? Jika pernah, kondisi tersebut bukan sekadar soal terlalu banyak berpikir.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pikiran negatif, emosi buruk, dan kebiasaan memikirkan masalah berulang kali atau rumination dapat saling memperkuat, membuat seseorang semakin sulit keluar dari prasangka negatif.
Dilansir dari Psychology Today, Senin (7/9/2026) waktu setempat, penelitian tersebut menemukan bahwa seseorang dapat terjebak dalam penafsiran negatif terhadap situasi yang sebenarnya masih memiliki banyak kemungkinan.
Contohnya sederhana. Ketika pesan kepada seorang teman tidak kunjung dibalas, seseorang mungkin awalnya berpikir, “Mungkin dia sedang sibuk.”
Namun, setelah melihat temannya aktif di media sosial, pikiran mulai berubah. “Jangan-jangan dia sengaja menghindariku.” Bahkan bisa berkembang menjadi, “Mungkin dia sedang marah atau kesal kepadaku.”
Persoalannya bukan hanya munculnya pikiran negatif, tetapi ketidakmampuan untuk mengubah penilaian ketika muncul informasi baru.
Seseorang bisa tetap meyakini temannya sedang marah meski kemudian mendapatkan penjelasan bahwa temannya memang sedang sibuk.
Pikiran Negatif dan Emosi Saling Menguatkan : Penelitian yang dilakukan Lisa M. W. Vos bersama sejumlah peneliti dari Tilburg University dan KU Leuven melibatkan 179 orang dewasa dengan tingkat gejala depresi dan kecemasan yang beragam.
Para peserta mengikuti penelitian selama 14 hari. Setiap hari mereka mendapatkan enam pertanyaan singkat mengenai kondisi mental dan cara mereka menafsirkan berbagai situasi.
Hasilnya menunjukkan, peserta dengan lebih banyak gejala depresi dan kecemasan sosial cenderung lebih sulit melepaskan penafsiran negatif. Para peneliti juga menemukan adanya hubungan timbal balik antara pikiran dan emosi.
Ketika seseorang semakin sulit melepaskan pikiran negatif, emosi negatif cenderung ikut meningkat. Sebaliknya, ketika suasana hati memburuk, seseorang semakin mungkin mempertahankan penafsiran negatif terhadap situasi yang sebenarnya belum jelas. Di sinilah kebiasaan rumination berperan.
Seseorang terus memikirkan masalah yang sama berulang-ulang. Penafsiran negatif memicu pikiran yang tidak berhenti, sementara kebiasaan tersebut justru membuat pikiran negatif semakin sulit dilepaskan.
Jonas Everaert, Ph.D., salah satu peneliti sekaligus asisten profesor psikologi klinis di Tilburg University dan peneliti senior di KU Leuven, menjelaskan bahwa temuan tersebut menunjukkan adanya pengaruh dua arah antara pikiran dan emosi.
Bukan Harus Selalu Berpikir Positif : Temuan ini memberikan satu pesan penting: menjaga kesehatan mental bukan berarti seseorang harus memaksa dirinya untuk selalu berpikir positif.
Yang lebih penting adalah kemampuan untuk meninjau kembali pikiran ketika keadaan berubah atau informasi baru muncul.
Ketika pikiran negatif muncul, seseorang tidak harus langsung menggantinya dengan pikiran positif. Langkah yang lebih realistis adalah mencoba melihat kemungkinan lain.
“Apakah benar seperti yang saya pikirkan?”
“Adakah penjelasan lain?”
“Apakah ada informasi baru yang mungkin mengubah kesimpulan saya?”
Pertanyaan sederhana semacam itu dapat membantu seseorang memberi jarak antara fakta dan asumsi.
Mengelola emosi juga dinilai dapat membantu seseorang berpikir lebih fleksibel. Mengurangi tekanan, menghentikan kebiasaan memikirkan masalah secara berulang, mencari dukungan dari orang lain, serta mengalihkan perhatian pada pengalaman positif merupakan sejumlah pendekatan yang masih perlu diteliti lebih lanjut.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa penelitian ini menunjukkan hubungan antarproses psikologis dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat.
Karena itu, penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui strategi apa yang benar-benar efektif membantu seseorang melepaskan penafsiran negatif.
Pada akhirnya, tidak semua yang muncul di pikiran adalah fakta. Terkadang, yang membuat sebuah masalah terasa semakin berat bukan kejadian sebenarnya, melainkan cerita negatif yang terus kita ulang di dalam kepala. (red/akha)










