Saiful Huda Ems : Pergeseran Kekuatan dari Ketum Tanfidziyah ke Rais Aam di Muktamar Nahdlatul Ulama 

oleh

SUARASMR.NEWS, JOMBANG – Berbeda dengan Muktamar-Muktamar NU sebelumnya, Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang saat ini (27 Agustus-2 September 2026) sangat berbeda keadaannya.

Ini terjadi karena mekanisme Pemilihan Ketum PBNU berubah dari sebelumnya, yang menganut sistem one man one vote, berganti dengan penunjukan oleh tim Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

banner 930x110

Tadi malam (Sabtu, 29/Agustus/2026) Forum Muktamar telah melakukan voting terlebih dahulu, yang menghasilkan peserta Muktamar (Muktamirin) yang menyetujui pemilihan Ketum PBNU dilakukan oleh AHWA sebanyak 401 suara, sementara sistem one man one vote hanya mendapatkan 150 suara.

Dan sampai dini hari tadi, sidang pleno Muktamar masih memproses pemilihan anggota AHWA dan pemilihan Rais Aam terlebih dahulu, sebelum dilanjutkan dengan pembahasan dan penentuan calon Ketua Umum PBNU.

Olehnya, siapa yang akan masuk sebagai anggota AHWA dan siapa Rais Aam yang akan terpilih, akan sangat menentukan siapa calon Ketum PBNU, karena calon Ketum PBNU haruslah mendapat restu terlebih dahulu dari Rais Aam. Inilah hal yang sangat menarik dan berbeda dari Muktamar-Muktamar NU sebelumnya.

Apalagi ada informasi, bahwa calon Ketua Umum PBNU haruslah mendapatkan restu tertulis dari Rais Aam terpiilih, maka ini akan menjadi pergeseran baru kekuatan dalam struktur kepengurusan PBNU.

Yaitu yang sebelumnya menempatkan Ketum Tanfidziyah PBNU di posisi strategis, bergeser menjadi Rais Aam yang mempunyai posisi strategis dan menentukan dalam jalannya organisasi, wabil khusus Suksesi Ketum PBNU di Muktamar NU.

Dari berbagai informasi yang saya dapatkan dari beberapa peserta Muktamar yang mempunyai pengaruh luas disana, KH. Said Aqil Shiradj berpeluang besar untuk terpilih menjadi Rais Aam.

Ini artinya, KH. Aqil Shiradj akan dengan mudah mengetahui siapa-siapa Calon Ketum Tanfidziyah PBNU yang akan terpilih. Bisa KH. Muhamad Yusuf Chudhori (Gus Yusuf) Jateng, bisa pula KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) pimpinan Ponpes Tebuireng Jombang. (red/SHE)

Baca Juga :  Saiful Huda Ems: Haidar Alwi dan Revolusi Sosial, Rakyat Bantu Rakyat 

Kalau KH. Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya (petahana PBNU) kelihatannya sudah tak berdaya, karena kedekatannya dengan istana dan para makelar tambang, yang banyak ditengarai telah menjadikan NU dalam lima tahun terakhir, sebagai Ormas Islam terbesar dunia yang hampir kehilangan wibawanya. Mosok Ketum PBNU kok mesra sekali dengan Israel, Rek…Wallahu a’lamu bishawab. (red/SHE)

Penulis : Saiful Huda Ems (SHE). Aktivis warga Nahdliyin. Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang (1985-1991).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *