Novel Bersampul Batik, Saat Cinta Tak Memiliki Namun Tak Pernah Pergi

oleh

SUARASMR.NEWS, SIDOARJO – Di tengah ketatnya tradisi pesantren dan kokohnya relasi kuasa keluarga kiai, lahirlah sebuah kisah cinta yang tidak berakhir pada pelaminan, tetapi abadi dalam ruang jiwa.

Itulah yang ditawarkan Mohammad Hairul melalui novel Novel Bersampul Batik, sebuah roman yang menyentuh, mengiris perasaan, sekaligus mengajak pembaca memahami bahwa cinta sejati tidak selalu berakhir dengan saling memiliki.

banner 720x1000

Tokoh Mahiru, seorang ustaz muda yang juga sastrawan berbakat, dipertemukan dengan Aida, santriwati cerdas dan berprestasi yang menjadi kebanggaan pesantren.

Pertemuan keduanya bukan sekadar kisah asmara biasa, melainkan perjalanan dua hati yang dipertemukan takdir, lalu dipisahkan oleh kenyataan.

Hairul merangkai cerita dengan begitu lembut. Ia tidak menjadikan pesantren sebagai ruang yang dipersalahkan, melainkan menghadirkannya sebagai lanskap kehidupan yang penuh warna, tempat manusia belajar ilmu, iman, sekaligus menghadapi ujian bernama cinta.

Kisah bermula ketika Aida telah menjadi istri Gus Haikal, putra keluarga pesantren yang terhormat. Namun di balik status dan kehormatan itu, tersimpan sebuah rahasia yang tak pernah benar-benar mati, cintanya kepada Mahiru.

Aida menyimpan kenangan itu dalam cara yang sunyi. Ia mengoleksi novel dan kumpulan cerpen karya Mahiru, membungkusnya dengan kain batik seolah sedang membungkus luka yang tak ingin dilihat siapa pun.

banner 720x1000

Batik-batik itu bukan lagi sekadar sampul buku, melainkan perban bagi hati yang belum selesai berdamai dengan masa lalu.

Setiap lembar karya Mahiru menjadi ruang tempat Aida kembali pulang. Pada kata-kata itulah ia menemukan jejak-jejak cinta yang pernah tumbuh begitu indah, namun harus dikuburkan demi memenuhi harapan keluarga.

Konflik mencapai puncaknya saat Gus Haikal, dengan kebesaran hatinya, justru mengantar Aida menghadiri peluncuran buku terbaru Mahiru. Di sebuah gedung teater, tiga hati yang terikat dalam takdir berbeda akhirnya dipertemukan.

Baca Juga :  Pemerintah Desa Dono Salurkan BLT DD Kepada Keluarga Penerima Manfaat

Momen itu menjadi salah satu adegan paling menggetarkan dalam novel. Mahiru dan Aida berdiri berhadapan sebagai dua insan yang tidak saling memiliki secara fisik, tetapi tak pernah benar-benar berpisah di dalam batin.

Sementara Gus Haikal harus menerima kenyataan bahwa cinta tidak selalu tunduk pada status dan kepemilikan.

Melalui kalimat-kalimat puitis yang memikat, Hairul menghadirkan Mahiru sebagai “lelaki penenun angin” sosok yang mungkin kehilangan perempuan yang dicintainya, tetapi tetap hidup dalam setiap ruang hati yang pernah disentuhnya.

Keindahan novel ini tidak hanya terletak pada romantismenya, tetapi juga pada keberhasilannya menggambarkan luka dengan cara yang anggun.

Tidak ada tokoh yang benar-benar menjadi pemenang atau pecundang. Yang ada hanyalah manusia-manusia yang berusaha berdamai dengan takdir masing-masing.

Di penghujung cerita, Aida membuka kembali lemari yang menyimpan tumpukan buku karya Mahiru. Untuk pertama kalinya, ia membacanya tanpa rasa takut, tanpa sembunyi-sembunyi, tanpa rasa bersalah.

Ia telah menerima kehidupannya bersama Gus Haikal. Namun jauh di relung terdalam jiwanya, ia tetap menjadi bagian dari kisah yang pernah ditenun bersama Mahiru.

Novel Bersampul Batik bukan sekadar cerita cinta yang kandas. Ia adalah kisah tentang kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi, tentang takdir yang tidak selalu sejalan dengan keinginan, dan tentang hati yang kadang tetap mencintai meski telah belajar merelakan.

“Sebab pada akhirnya, ada cinta yang tidak ditakdirkan untuk dimiliki, melainkan untuk dikenang sepanjang usia.” (red/akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *