Tak Lagi Asal Bagi Bantuan, Surabaya Bongkar Akar Kemiskinan 

oleh

SUARASMR.NEWS, SURABAYA – Selama bertahun-tahun, miliaran rupiah anggaran bantuan sosial dan program pemberdayaan terus digelontorkan untuk menekan angka kemiskinan.

Namun, satu pertanyaan besar masih terus menghantui: mengapa banyak bantuan justru gagal mengubah nasib penerimanya?

banner 930x110

Gerobak usaha yang terbengkalai, bantuan modal yang tak berkembang, hingga pelatihan kerja yang tidak menghasilkan pekerjaan menjadi potret bahwa persoalan kemiskinan tidak cukup diselesaikan hanya dengan membagikan bantuan.

Persoalan utamanya adalah ketidaktepatan sasaran dan minimnya pemahaman terhadap karakter setiap penerima.

Melihat kenyataan tersebut, Pemerintah Kota Surabaya menghadirkan terobosan baru melalui Brida Step (Surabaya Talent Entrepreneurial Path), sebuah inovasi dari Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) yang mengubah cara pemerintah memandang kemiskinan.

Jika selama ini pemerintah lebih dahulu menentukan jenis bantuan yang akan diberikan, Brida Step justru memulai dari satu langkah mendasar: mengenali siapa penerimanya, bagaimana kondisi psikologisnya, apa potensi yang dimiliki, serta bentuk pendampingan yang benar-benar dibutuhkan.

Riset Ungkap Fakta Mengejutkan: Program ini tidak dibangun atas asumsi semata. Brida bersama Fakultas Psikologi Universitas Airlangga (Unair) melakukan penelitian terhadap 448 responden yang tersebar di 30 kecamatan di Surabaya.

Hasilnya menunjukkan bahwa warga miskin bukanlah kelompok yang homogen. Ada yang membutuhkan dorongan motivasi, ada yang sebenarnya siap bekerja tetapi kehilangan arah, ada yang memiliki disiplin tinggi untuk menjadi pelaku usaha, bahkan terdapat individu dengan potensi kepemimpinan yang layak dikembangkan menjadi wirausahawan.

Temuan tersebut menjadi bukti bahwa pendekatan bantuan yang sama kepada semua orang justru berisiko melahirkan program yang tidak efektif.

Bantuan Tak Lagi Asal Dibagikan: Melalui Brida Step, setiap peserta mengikuti asesmen menggunakan Tes TIPI (Inventaris Kepribadian Sepuluh Item), Tes Grit untuk mengukur ketekunan dan daya juang, serta Tes Kewirausahaan.

Baca Juga :  Heboh! Dana Makan Bergizi Gratis Dipangkas Rp67 Triliun, Ini Alasan Pemerintah

Hasil asesmen menjadi dasar dalam menentukan bentuk intervensi yang paling tepat. Dengan pendekatan ini, bantuan bukan lagi sekadar dibagikan, melainkan disesuaikan dengan karakter, kesiapan mental, dan potensi masing-masing individu.

Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep evidence-based policy, yakni kebijakan yang disusun berdasarkan data dan hasil riset agar anggaran publik benar-benar menghasilkan dampak nyata.

Kemiskinan Bukan Hanya Soal Uang: Brida Step juga membawa cara pandang baru bahwa kemiskinan tidak semata-mata berkaitan dengan kekurangan ekonomi.

Kondisi psikologis seperti hilangnya rasa percaya diri, rendahnya motivasi, hingga ketakutan mengambil risiko juga menjadi faktor yang menghambat seseorang keluar dari kemiskinan.

Berbagai penelitian internasional, termasuk dari Bank Dunia, menunjukkan bahwa tekanan ekonomi berkepanjangan dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan dan merencanakan masa depan.

Karena itu, pemberdayaan masyarakat harus menyentuh aspek manusia, bukan hanya memberikan bantuan materi.

Untuk memperkuat pendekatan tersebut, Brida menggandeng sejumlah perguruan tinggi ternama, di antaranya Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Ciputra, dan Universitas Surabaya.

Masih Hadapi Sejumlah Tantangan: Meski menjanjikan, implementasi Brida Step masih menghadapi sejumlah kendala, seperti rendahnya literasi digital dan keterbatasan kepemilikan telepon pintar di kalangan masyarakat.

Sebagai solusi, Brida menerapkan sistem hibrida melalui platform digital dan formulir cetak agar seluruh warga tetap dapat mengikuti proses asesmen tanpa terkendala teknologi.

Selain itu, keberhasilan program juga akan sangat bergantung pada pendampingan yang berkelanjutan, mulai dari pelatihan, inkubasi usaha, monitoring, hingga evaluasi jangka panjang.

Tanpa proses tersebut, hasil asesmen dikhawatirkan hanya menjadi data yang tersimpan tanpa menghasilkan perubahan nyata.

Berpotensi Jadi Role Model Indonesia: Meski masih dalam tahap uji coba, Brida Step dinilai menawarkan paradigma baru dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia.

Baca Juga :  Seskab Teddy Indra Wijaya Naik Pangkat, Sebuah Bukti Dedikasi dan Profesionalisme

Keberhasilan program tidak lagi diukur dari besarnya anggaran yang terserap atau banyaknya bantuan yang dibagikan, melainkan dari seberapa banyak masyarakat yang benar-benar mampu bangkit dan mandiri.

Apabila implementasinya berjalan konsisten dan mampu membuktikan hasil nyata, Surabaya berpeluang menjadi daerah percontohan nasional dalam membangun kebijakan sosial yang lebih tepat sasaran, berbasis riset, dan berorientasi pada kualitas sumber daya manusia.

Di tengah ambisi mewujudkan Indonesia Emas 2045, Brida Step mengirimkan satu pesan kuat: mengentaskan kemiskinan bukan sekadar membagikan bantuan, tetapi memahami manusia yang menerima bantuan tersebut. (red/akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *