SUARASMR.NEWS YOGYAKARTA – Menjadi lansia bukan berarti waktunya berhenti bergerak dan menarik diri dari kehidupan sosial. Justru, masa lanjut usia dapat menjadi fase untuk menikmati hidup dengan lebih sehat, bahagia, produktif, sekaligus semakin dekat kepada Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan Anggota Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Joko Murdiyanto, dalam kajian Hidup Sehat dan Bahagia di Masjid KH Sudja Yogyakarta, Minggu (23/8/2026).
Joko menegaskan, menjaga kesehatan lansia tidak cukup hanya dengan memperhatikan kondisi fisik. Ada dua aspek lain yang tak kalah penting, yakni kesehatan sosial dan spiritual.
Dalam pandangan Islam, tubuh merupakan amanah dari Allah SWT yang harus dirawat. Karena itu, hidup sehat tidak sekadar berarti terbebas dari penyakit, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan antara aktivitas, istirahat, hubungan sosial, dan ibadah.
1. Jangan Abaikan Keseimbangan Hidup : Joko mengajak lansia menerapkan prinsip tawazun atau keseimbangan. Aktivitas sehari-hari, pola makan, hingga waktu istirahat harus diatur secara teratur.
“Kehidupan yang sehat membutuhkan keteraturan antara aktivitas, pola makan, dan waktu istirahat,” kata Joko.
Ia mengingatkan agar masyarakat tidak membiasakan pola hidup yang berantakan. Konsumsi gula dan garam juga perlu dikendalikan, termasuk mengurangi gula dalam minuman.
Sebaliknya, makanan alami seperti sayuran dan buah-buahan perlu lebih banyak dikonsumsi.
2. Tua Bukan Alasan Berhenti Bergerak : Usia boleh bertambah, tetapi tubuh tetap membutuhkan aktivitas. Jalan kaki, menggunakan tangga, maupun aktivitas ringan lainnya dapat dilakukan secara rutin sesuai kemampuan fisik. Tubuh yang terlalu jarang digunakan untuk bergerak berisiko mengalami penurunan massa otot.
Bagi lansia yang masih mampu berjalan ke masjid, aktivitas tersebut bahkan memiliki manfaat ganda: menjaga kebugaran sekaligus menjadi kesempatan untuk berzikir dan beribadah.
3. Jangan Sampai Lansia Terisolasi: Kesehatan mental dan sosial juga tak boleh diabaikan.
Joko mendorong lansia untuk tetap menghadiri majelis, menjaga silaturahmi, mengikuti kegiatan lingkungan, serta berinteraksi dengan keluarga dan masyarakat. Tetap terlibat dalam kehidupan sosial membuat lansia merasa dihargai, dibutuhkan, dan masih memiliki peran di tengah lingkungan.
4. Perbanyak Ibadah, Perkuat Kedekatan dengan Allah :Memasuki usia lanjut juga dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas kehidupan spiritual. Zikir, doa, salat, membaca Al-Qur’an dan berbagai ibadah lainnya perlu terus dipelihara.
Joko mengingatkan agar ibadah tidak dipandang sebagai beban. Sebaliknya, ibadah merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus menemukan ketenangan batin.
Evaluasi spiritual pun penting dilakukan, termasuk melihat kembali kualitas salat dan kedekatan dengan Al-Qur’an.
5. Ingin Bahagia? Bahagiakan Orang Lain : Ada pesan sederhana namun kuat yang disampaikan Joko: kebahagiaan tidak selalu datang ketika seseorang hanya memikirkan dirinya sendiri.
“Kebahagiaan tidak selalu diperoleh dengan memusatkan perhatian pada diri sendiri,” ujarnya.
Membantu orang lain, memberikan perhatian, atau bahkan sekadar tersenyum dapat menjadi bentuk sederhana untuk menebarkan kebahagiaan.
Lansia Sehat, Lansia Tetap Bermanfaat. Pesan Joko menunjukkan bahwa usia lanjut bukanlah akhir dari kehidupan yang aktif. Lansia tetap dapat menjalani hari-hari dengan sehat, bahagia, dan bermanfaat.
Kuncinya adalah menjaga keseimbangan tubuh, aktivitas, pola makan, hubungan sosial, dan kehidupan spiritual.
Sebab, semakin bertambah usia, bukan berarti semakin jauh dari kehidupan. Justru, masa lansia dapat menjadi kesempatan untuk memperbanyak manfaat, mempererat silaturahmi, memperbaiki ibadah, dan semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. (red/chan)










