Dokter Ungkap Gejala yang Wajib Diwaspadai Penyakit Katup Jantung 

oleh

SUARASMR.NEWS TANGERANG – Penyakit katup jantung menjadi salah satu gangguan kardiovaskular yang kerap berkembang tanpa disadari. Gejalanya muncul secara perlahan, membuat banyak penderita baru mengetahui kondisinya saat fungsi jantung sudah menurun dan risiko komplikasi semakin besar.

Dokter Spesialis Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Vera Citra Setiawan Hoei, mengungkapkan bahwa penyakit katup jantung terjadi ketika katup mengalami penyempitan (stenosis) atau tidak mampu menutup rapat (regurgitasi).

banner 930x110

Kondisi tersebut menyebabkan aliran darah terganggu sehingga jantung dipaksa bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

“Jika dibiarkan dalam waktu lama, gangguan ini dapat memicu pembesaran jantung, gangguan irama jantung, hingga penurunan kemampuan jantung memompa darah. Karena gejalanya berkembang perlahan, pemeriksaan sejak dini menjadi kunci untuk menentukan penanganan yang tepat,” jelas dr. Vera, Kamis (6/8/2026).

Jantung manusia memiliki empat katup utama, yaitu katup mitral, aorta, trikuspid, dan pulmonal. Keempatnya berfungsi memastikan darah mengalir ke arah yang benar.

“Namun ketika salah satu katup mengalami kerusakan, dampaknya bisa sangat serius, mulai dari pembesaran ruang jantung, terbentuknya bekuan darah, gangguan irama jantung, hingga gagal jantung,” jelasnya.

Penyakit ini dapat dipicu oleh berbagai faktor, seperti demam rematik akibat infeksi tenggorokan, proses penuaan dan pengapuran katup, infeksi katup jantung (endokarditis), kelainan bawaan, tekanan darah tinggi, serangan jantung, hingga gagal jantung.

Yang mengkhawatirkan, penyakit katup jantung tidak hanya menyerang lansia. Anak-anak, orang dewasa, hingga ibu hamil juga berisiko mengalaminya, terutama jika memiliki riwayat penyakit jantung atau faktor risiko tertentu.

Pada ibu hamil, kelainan katup yang sebelumnya tidak bergejala bahkan dapat mulai menimbulkan keluhan akibat meningkatnya beban kerja jantung selama kehamilan.

Baca Juga :  Hasil Uji Badan Pangan Nasional Menyatakan Anggur Muscat Aman Dikonsumsi

Masyarakat diminta tidak mengabaikan sejumlah tanda bahaya seperti sesak napas saat beraktivitas atau ketika berbaring, mudah lelah, jantung berdebar tidak beraturan, nyeri dada, pusing hingga pingsan, serta pembengkakan pada kaki, pergelangan kaki, maupun perut.

Menurut dr. Vera, tingkat keparahan gejala tidak selalu mencerminkan tingkat kerusakan katup. Bahkan, sebagian pasien dengan kerusakan berat dapat tetap merasa hanya mengalami keluhan ringan, sehingga pemeriksaan medis menjadi sangat penting.

Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya melakukan pemeriksaan ekokardiografi (USG jantung) guna menilai kondisi katup, tingkat penyempitan atau kebocoran, ukuran ruang jantung, serta kekuatan pompa jantung.

Pemeriksaan juga dapat dilengkapi dengan EKG, rontgen dada, tes latih jantung, CT Scan, MRI jantung, hingga kateterisasi sesuai kebutuhan pasien.

Meski demikian, tidak semua penderita harus menjalani operasi. Pada kasus ringan, pasien cukup menjalani kontrol rutin disertai terapi obat untuk mengontrol tekanan darah, irama jantung, mengurangi penumpukan cairan, serta mencegah pembentukan bekuan darah.

Sementara pada kondisi yang lebih berat, pilihan terapi dapat berupa pelebaran katup menggunakan balon, perbaikan atau penggantian katup jantung, bedah minimal invasif, hingga prosedur Transcatheter Aortic Valve Implantation (TAVI) bagi pasien dengan indikasi tertentu.

Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, menegaskan bahwa keberhasilan penanganan penyakit katup jantung sangat bergantung pada diagnosis yang cepat, kolaborasi tim medis multidisiplin, serta dukungan fasilitas kesehatan yang memadai.

Ia berharap layanan jantung terpadu tidak hanya mampu menangani kerusakan katup jantung, tetapi juga menjaga fungsi jantung tetap optimal sehingga pasien dapat mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik.

“Deteksi dini menjadi senjata utama. Jangan abaikan gejala sekecil apa pun, karena penyakit katup jantung dapat berkembang secara diam-diam dan berujung pada komplikasi yang mengancam nyawa jika terlambat ditangani,” ujarnya. (red/niluh)

Baca Juga :  Pelukan Bukan Sekadar Kasih Sayang, Tapi Juga Obat Alami untuk Tubuh dan Jiwa

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *