SUARASMR.NEWS SURABAYA – Sebuah kisah tentang cinta, keluarga, harapan, dan keberanian akan hidup kembali di atas panggung. Dalam hitungan minggu, Premiere School of Ballet siap menghadirkan pertunjukan kolosal “The Lion King” yang dipastikan menjadi salah satu pertunjukan seni paling megah di Jawa Timur tahun ini.
Digelar pada 1 Agustus 2026 di Gedung Cak Durasim, UPT Taman Budaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur, pertunjukan ini mengusung konsep Broadway dengan melibatkan 165 penari dari berbagai generasi, mulai anak-anak usia 2,5 tahun hingga penari dewasa.
Lebih dari sekadar pertunjukan balet, The Lion King akan menjadi sebuah perjalanan emosional yang mengajak penonton menyelami makna cinta keluarga, persahabatan, pengorbanan, dan keberanian menemukan jati diri, sebagaimana perjalanan Simba yang telah memikat jutaan penonton di seluruh dunia.
Pemilik sekaligus sutradara produksi, Sylvi Panggawean, mengatakan pihaknya ingin menghadirkan wajah baru balet yang lebih dekat dengan masyarakat tanpa meninggalkan keindahan teknik klasik.
“Kami ingin menunjukkan bahwa balet mampu bercerita tentang kisah-kisah yang dicintai banyak orang, namun tetap mempertahankan kualitas seni dan teknik klasik,” ujar Sylvi saat dihubungi suarasmr.news, Jumat (10/7/2026).
Kemegahan produksi akan diperkuat dengan tata panggung spektakuler, permainan cahaya dramatis, koreografi yang energik, serta kostum artistik yang menghadirkan suasana padang savana Afrika ke atas panggung.
Setiap adegan dirancang agar penonton tidak hanya menyaksikan tarian, tetapi ikut merasakan emosi yang mengalir di setiap langkah para penari.
Produksi ini juga menjadi momen istimewa karena bertepatan dengan perayaan 25 tahun Premiere School of Ballet, sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari Surabaya Timur hingga berkembang ke Surabaya Barat dan Malang sebagai salah satu institusi pendidikan balet yang konsisten melahirkan talenta-talenta muda.
Selama dua setengah dekade, Premiere School of Ballet tidak hanya mengajarkan teknik menari, tetapi juga membangun karakter, disiplin, rasa percaya diri, dan keberanian untuk bermimpi melalui seni.
Pengalaman panjang mereka dalam menggarap pertunjukan bertema populer seperti Mulan (2015), Shrek (2017), dan Moana (2025) menjadi modal kuat untuk menghadirkan The Lion King sebagai pertunjukan yang lebih matang, lebih megah, dan lebih emosional.
Keunikan lain pertunjukan ini terletak pada keberagaman para penarinya. Anak-anak yang baru mengenal dunia balet hingga penari dewasa akan tampil dalam satu panggung yang sama, menunjukkan bahwa seni tidak mengenal batas usia maupun latar belakang.
Selama berbulan-bulan, para penari menjalani latihan intensif bersama tim pengajar yang terdiri dari Michelle, Zendy, Lita, Jasmine, dan Michael. Mereka mempersiapkan setiap gerakan, ekspresi, serta transisi antarscene agar kisah Simba tersampaikan secara utuh dan menyentuh hati penonton.
Dengan balutan kemegahan ala Broadway, kisah yang penuh makna, serta semangat cinta terhadap seni yang telah dijaga selama 25 tahun, The Lion King diyakini akan menjadi salah satu pertunjukan budaya paling memikat di Surabaya tahun ini.
Bagi para pencinta seni, keluarga, maupun penikmat kisah romantis dan penuh inspirasi, pertunjukan ini bukan sekadar tontonan. Ini adalah perayaan cinta, mimpi, dan keberanian yang akan meninggalkan jejak di hati setiap penontonnya. (red/akha)











