Dari Forum Ekonomi Dunia, Gusti Bhre Tegaskan Budaya adalah Mesin Kemakmuran Bangsa

oleh

SUARASMR.NEWS SOLO – Di tengah derasnya arus transformasi digital dan kecerdasan buatan (AI), KGPAA Mangkoenagoro X atau yang akrab disapa Gusti Bhre menghadirkan perspektif berbeda di panggung bergengsi World Economic Forum (WEF) Annual Meeting of the New Champions 2026 di Dalian, China.

Dalam forum yang dihadiri para pemimpin dunia, inovator, dan pengambil kebijakan internasional itu, Gusti Bhre menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan yang harus dilestarikan, melainkan fondasi sosial sekaligus mesin pertumbuhan ekonomi yang mampu membawa bangsa menuju kemakmuran.

banner 720x1000

Menurutnya, kekuatan sebuah bangsa tidak lagi hanya diukur dari besarnya modal atau kemajuan teknologi, tetapi juga dari kemampuan mengubah identitas budaya menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan.

“Identitas melahirkan kepercayaan diri, kepercayaan diri melahirkan ambisi, ambisi menarik investasi, dan investasi menghadirkan kemakmuran,” menjadi benang merah gagasan yang disampaikannya di hadapan peserta forum internasional.

Budaya, Keunggulan yang Tak Bisa Ditiru

Di era digital ketika teknologi dapat disalin dan modal dapat berpindah dengan cepat, Gusti Bhre menilai budaya justru menjadi keunggulan kompetitif yang tidak mudah direplikasi. Keaslian, cerita, dan identitas suatu bangsa merupakan aset paling berharga dalam memenangkan persaingan global.

Sebagai contoh nyata, ia mengangkat keberhasilan Pura Mangkunegaran di Solo yang mampu menghidupkan ekonomi melalui berbagai agenda budaya, pariwisata, hingga kegiatan masyarakat yang menghasilkan dampak ekonomi bagi daerah.

banner 720x1000

Indonesia Berpeluang Menjadi “Superpower Kebudayaan”

Dokumen tersebut juga mengangkat gagasan bahwa Indonesia memiliki peluang besar menjadi superpower kebudayaan dunia. Dengan kekayaan tradisi, seni, dan warisan budaya yang dimiliki, Indonesia dinilai mempunyai modal kuat untuk membangun ekonomi berbasis identitas nasional.

Konsep ini dipandang sebagai alternatif strategi pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memperkuat karakter bangsa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga :  Coretax Ubah Wajah Pelaporan SPT, Pajak Kini Dihitung Otomatis

Gusti Bhre Bukan Raja

Selain memuat gagasan kebudayaan, dokumen tersebut juga memberikan penjelasan sejarah mengenai kedudukan Gusti Bhre. Sejumlah sejarawan menegaskan bahwa pemimpin Pura Mangkunegaran bukanlah seorang raja, melainkan Adipati atau pemimpin Kadipaten Mangkunegaran sesuai sejarah Perjanjian Salatiga tahun 1757.

Meski demikian, Mangkunegaran tetap memiliki posisi penting sebagai salah satu pusat pelestarian sekaligus pengembangan kebudayaan Jawa yang terus relevan hingga kini.

Soroti Krisis Kebangsaan

Pada bagian akhir, dokumen turut merangkum hasil Diskusi Aktivis API Perubahan Indonesia bertema “NKRI Berdaulat dan Krisis Multidimensi”. Dalam diskusi tersebut, para pembicara menyampaikan berbagai kritik terhadap praktik oligarki, korupsi, serta tata kelola Proyek Strategis Nasional (PSN).

Diskusi juga memuat pandangan sejumlah peserta yang mendukung langkah pemerintahan Presiden Prabowo dalam pemberantasan korupsi dan pembenahan pengelolaan sumber daya alam.

Di sisi lain, forum tersebut turut mengemukakan tuntutan politik terhadap Presiden Joko Widodo. Pernyataan-pernyataan tersebut merupakan pandangan para peserta diskusi dan bukan merupakan fakta hukum yang telah diputuskan oleh pengadilan.

Budaya sebagai Jalan Masa Depan Indonesia

Secara keseluruhan, dokumen ini memadukan gagasan besar mengenai budaya sebagai penggerak ekonomi, penjelasan sejarah mengenai Mangkunegaran, serta dinamika diskusi politik nasional.

Pesan utamanya jelas: Indonesia memiliki peluang besar membangun masa depan melalui kekuatan kebudayaan, identitas, dan karakter bangsa sebagai fondasi kemajuan ekonomi dan peradaban. (red/adb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *