Festival Toekang 2026 Guncang Surabaya: Adu Keahlian Tukang Berhadiah Puluhan Juta, Bangun Generasi Emas Konstruksi Indonesia

oleh

SUARASMR.NEWS SURABAYA – Dunia konstruksi dan arsitektur Indonesia memasuki babak baru. Bukan hanya mengandalkan rancangan megah para arsitek, tetapi juga mengangkat peran para tenaga terampil sebagai ujung tombak lahirnya bangunan berkualitas.

Semangat itulah yang digaungkan dalam Festival Toekang 2026 bertema Architecture & Craftsmanship Festival yang digelar di Universitas Ciputra Surabaya, Minggu (28/6/2026).

banner 720x1000

Festival ini menjadi panggung kolaborasi besar antara dunia pendidikan, profesi, industri, dan para tukang profesional untuk mencetak sumber daya manusia konstruksi yang tangguh dan siap bersaing di tingkat nasional maupun global.

Digagas oleh ArchLabs by Woodrip, aca menggandeng Universitas Ciputra Surabaya, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Timur, serta mendapat dukungan penuh dari AIDI dan Milan sebagai sponsor utama bersama berbagai perusahaan penyedia material bangunan dan perkakas profesional.

Tak sekadar festival, kegiatan ini menjadi ruang bertemunya mahasiswa, arsitek, kontraktor, aplikator, pelaku UMKM furnitur, vendor material, hingga masyarakat umum dalam satu ekosistem pembelajaran yang memadukan teori, teknologi, dan praktik lapangan.Adu Keahlian Tukang Jadi Magnet Utama

Sorotan utama Festival Toekang 2026 adalah kompetisi keterampilan yang menguji kemampuan teknis para peserta secara langsung.

Mulai dari Lomba Rakit Furnitur, Lomba Pasang Engsel, hingga Lomba Pasang Pintu, seluruh peserta ditantang bekerja dengan kecepatan tinggi, ketelitian, efisiensi, serta standar kualitas industri.

banner 720x1000

Tak hanya memperebutkan hadiah total puluhan juta rupiah, para peserta juga mendapat kesempatan mencoba berbagai material terbaru, aksesoris furnitur modern, hingga perkakas profesional yang kini menjadi standar industri konstruksi dan interior.

Kompetisi ini sekaligus membuktikan bahwa profesi tukang membutuhkan kompetensi tinggi, presisi, dan profesionalisme yang tak kalah penting dibanding profesi lain dalam dunia pembangunan.

Baca Juga :  Wali Kota Denpasar Tetapkan Status Tanggap Darurat Banjir Pemkot Gerak Cepat Bantu Warga

AIDI dan Milan Siapkan Roadshow Nasional

Marketing AIDI, Muhammad Arul, menegaskan Festival Toekang merupakan bentuk komitmen AIDI bersama Milan dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja konstruksi Indonesia.

Menurutnya, festival yang kini memasuki tahun kedua tersebut akan berkembang menjadi roadshow nasional, dimulai dari Surabaya sebelum berlanjut ke Bogor, Tangerang, Bekasi, Solo, Yogyakarta, hingga Makassar.

“Kami ingin menghadirkan ruang belajar bagi para tukang melalui lomba pemasangan HPL, pemasangan engsel, demonstrasi aplikasi material, serta edukasi mengenai standar pekerjaan yang baik,” ujar Arul.

Ia menegaskan, kehadiran AIDI bukan sekadar memperkenalkan produk, tetapi membangun budaya kerja yang lebih profesional.

Dalam kesempatan itu, AIDI juga memperkenalkan produk High Pressure Laminate (HPL) yang dapat dipesan secara custom, bahkan mulai satu lembar dengan desain motif khusus hingga ukuran tiga meter.

DCA Pamerkan Lebih dari 200 Perkakas Profesional

Festival juga diramaikan kehadiran DCA Professional Power Tools yang membawa lebih dari 200 jenis perkakas listrik profesional, mulai dari gerinda, bor, circular saw, blower hingga gergaji cordless berbasis baterai.

Branch Manager DCA, Dian, mengatakan seluruh produk dapat dicoba langsung oleh peserta.

Selain itu, DCA menawarkan garansi penggantian unit baru selama enam bulan, servis gratis seumur hidup, serta ketersediaan suku cadang yang lengkap untuk menunjang kebutuhan industri.

Menurutnya, Festival Toekang menjadi sarana efektif memperkenalkan teknologi terbaru sekaligus meningkatkan keterampilan para pekerja konstruksi Indonesia.

Universitas Ciputra: Arsitek Hebat Tak Bisa Berdiri Sendiri

Ketua Program Studi Arsitektur Universitas Ciputra, Melanai Rahadiyanti ST MT, menegaskan keberhasilan sebuah karya arsitektur tidak pernah lepas dari tangan-tangan terampil para pekerja konstruksi.

“Arsitek tidak bisa bekerja sendiri. Sebagus apa pun desain yang dibuat, semuanya tidak akan terwujud tanpa keterampilan para tukang di lapangan. Festival ini menjadi ruang bertemunya seluruh elemen dalam proses pembangunan,” tegasnya.

Baca Juga :  Tahun 2026 Dibuka dengan Peringatan Keras: Gesture Sepele Bisa Hancurkan Wibawa dan Masa Depan Anda

Menurut Melanai, mahasiswa memperoleh pengalaman berharga karena dapat berdiskusi langsung dengan vendor material, kontraktor, hingga tenaga konstruksi profesional sehingga memahami bahwa keberhasilan pembangunan merupakan hasil kolaborasi seluruh pihak.

Ia juga menegaskan Universitas Ciputra terus meneruskan visi almarhum Ciputra untuk melahirkan karya arsitektur yang tidak hanya indah, tetapi juga inklusif, ramah bagi anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Bangun Ekosistem Konstruksi Indonesia yang Lebih Tangguh

Selain kompetisi, Festival Toekang 2026 menghadirkan seminar arsitektur, demonstrasi pemasangan material, pameran produk bangunan modern, hingga konsultasi teknis bersama para pelaku industri.

Kolaborasi antara ArchLabs by Woodrip, Universitas Ciputra Surabaya, IAI Jawa Timur, AIDI, Milan, serta berbagai perusahaan konstruksi menjadi bukti bahwa masa depan industri tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusianya.

Festival Toekang 2026 menegaskan satu pesan besar: tukang bukan sekadar pelaksana pembangunan, melainkan pilar utama yang menentukan kualitas sebuah karya arsitektur.

Melalui sinergi lintas sektor ini, Indonesia diharapkan mampu melahirkan tenaga konstruksi yang semakin profesional, inovatif, dan siap bersaing di panggung global. (red/akha)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *