SUARASMR.NEWS JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan bahwa sastra bukan sekadar pelengkap pembelajaran, melainkan fondasi penting dalam membentuk karakter.
Yaitu mengasah kepekaan, serta memperkuat budaya literasi peserta didik. Di tengah derasnya arus digitalisasi, pemerintah justru mendorong lahirnya generasi kreatif melalui karya sastra berbasis teknologi.
Dalam keterangannya di Jakarta Pusat, Selasa, Abdul Mu’ti menegaskan bahwa pendidikan yang ideal tidak hanya mengejar kecerdasan intelektual, tetapi juga harus menumbuhkan empat pilar utama, yakni olahraga, olah pikir, olah rasa, dan olah hati secara seimbang.
“Pendidikan itu ada empat, yaitu olahraga, olah rasa, olah pikir, dan olah hati. Keempatnya harus tumbuh semuanya dan harus kita berikan ruang yang terintegrasi,” ujarnya.
Menurutnya, selama ini pendidikan sering kali terlalu berfokus pada aspek akademik, sementara ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan imajinasi, empati, dan kreativitas masih perlu diperluas.
Padahal, kemampuan tersebut menjadi bekal penting dalam menghadapi tantangan kehidupan di era digital yang semakin kompleks.
Abdul Mu’ti menilai sastra memiliki kekuatan besar untuk membangun karakter generasi muda. Melalui puisi, cerpen, maupun karya sastra lainnya, peserta didik dapat belajar mengekspresikan gagasan, mengelola emosi, serta menyampaikan pemikiran dengan bahasa yang santun dan bermakna.
Menariknya, Kemendikdasmen kini tidak memandang perkembangan teknologi sebagai ancaman bagi dunia sastra. Sebaliknya, ruang digital akan dijadikan panggung baru bagi lahirnya karya-karya kreatif dari para pelajar Indonesia.
“Kita ke depan perlu memikirkan digital poetry atau puisi-puisi digital. Kita punya Rumah Pendidikan yang bisa diisi oleh anak-anak dan guru dengan berbagai karya, termasuk karya sastra puisi. Selain itu, kita juga memiliki Majalah Literasi yang diterbitkan secara rutin oleh kementerian,” kata Abdul Mu’ti.
Gagasan tersebut menjadi bagian dari implementasi kebijakan Pembelajaran Mendalam yang saat ini tengah dikembangkan Kemendikdasmen.
Melalui pendekatan ini, proses belajar tidak lagi sekadar mengejar penyelesaian soal, tetapi juga mendorong peserta didik memperluas wawasan melalui kegiatan membaca, menulis, serta mengeksplorasi berbagai pengalaman belajar yang lebih bermakna.
Sebagai bentuk dukungan nyata terhadap gerakan literasi nasional, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen juga akan mendistribusikan sekitar 5,5 juta buku bacaan nonteks ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia.
Langkah besar tersebut diharapkan mampu memperkaya koleksi bacaan di sekolah, meningkatkan minat literasi, sekaligus membuka ruang seluas-luasnya bagi lahirnya generasi muda Indonesia yang cerdas, kreatif, berkarakter, dan mampu bersaing di era digital melalui kekuatan sastra dan imajinasi. (red/akha)










